Pengkafiran terhadap orang tua nabisaw
.
fashal pertama tentang pengkafiran terhadap ayahanda nabi saw.
.
ada beberapa dalil atau argumentasi dari aliran yang masyhur di sebut wahhabi dalam pengkafiran ibunda dan ayahanda nabi saw dalam artikel yang saya baca dimana didalam nya saya menemui beberapa kejanggalan. yaitu pada blog dakwahquransunnah.blogspot.com/2013/04/akidah-kedua-orang-tua-nabi-muhammad_6041.html
.
dalam bab pengkafiran ayahanda nabi saw yaitu abdullah bin abdul muththolib oleh wahhabi pada suatu artikel blog tersebut setidaknya ada tujuh (7) point yang tampak janggal. diantara nya yaitu :
.
(1) Dalil yang menunjukkan atas kafirnya Abdullah bin Abdil Muththalib, ayahanda Nabi Muhammad
.
Sanggahan usulan point ke 1:
.
Wahabiyun terlalu lugas dan jelas memberikan bab seperti ini sebelum extra hati hati memahami dalil dengan sedetail mungkin (tabayyun) . keextra hati-hatian dalam memahami dan menyimpulkan sebuah dalil adalah mutlak di butuhkan agar tidak tersesat oleh angan angan belaka.
.
(2) Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata:

أَنّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُولَ اللّهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ: فِي النّارِ. فَلَمّا قَفّى دَعَاهُ فَقَالَ: إِنّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النّارِ

Seorang lelaki bertanya: “Wahai Rasulullah, di manakah ayahku berada?” Nabi menjawab: “Di dalam neraka.” Ketika orang itu berpaling untuk pergi, Nabi memanggilnya. Lalu Nabi berkata: “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka” HR Muslim 203
.
sanggahan usulan point ke 2:
.
mungkin karena memahami kata “abu/i” (bapak) itu mutlak bermakna “waalid” maka timbullah point ke 3 di bawah ini. padahal tidak demikian.
.
ini adalah satu ayat dimana alqur-an menggunakan kata ‘abu/i’ yang mudlof pada seorang muayyan tapi tidak bermakna “waalid” (ayah yang melahirkan)
.
“dan ketika ibrohim berkata pada ayahandanya yaitu azar ‘apakah anda menjadikan patung patung itu sebagai tuhan tuhan?” (surat al-an’am ayat 74)
.
ini adalah salah satu bukti bahwa kata ‘abu/i’ meskipun di mudhofkan pada perorangan (saya, dia, kamu) itu tidaklah mutlak bermakna “waalid” sebab azar bukanlah ayahanda nabi ibrohim tapi hanya bapak angkatnya saja. ini sesuai dengan pemakaian kata abu dan ummu dalam bahasa arab sama dengan pemakaian kata bapak dan ibu dalam bahasa indonesia. selain di pakai untuk panggilan semata yaitu di pakai untuk orang yang lebih tinggi derajatnya. seperti orang tua sulbi yakni ayah, mami, saudara nya orang tua paman, bibi, orang tua angkat, orang tua (pemimpin) kumpulan, dan negara. ummul mukminin
abu huroiroh, abu lfadl, abul basyar, dll.
.
Kata abu dan ummu dalam sebagian kejadian hanya meminjam makna dari kata walid dan walidah. bukan makna wadla’ dari kata walid dan walidah tersebut. seperti kata “abawaini” yang meminjam makna dari kata “walidaini”
.
(3) Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa ayahanda Rasulullah mendapatkan hukuman yang sama dengan ayah dari lelaki tersebut, yaitu sama-sama berada di dalam neraka.
.
Sanggahan usulan point ke 3:
.
kewajiban menerapkan keextra hati hatian dan sikap kritis dalam hal ini setidaknya ada beberapa hal yang perlu di teliti :
(a) sababul wurud, wahabi harus menjelaskan bahwa laki laki itu benar benar menanyakan perihal ibu sulbi nya. bukan bibi pengasuh nya.
.
(b) wahabi harus menjelaskan bahwa laki laki itu menanyakan perihal bapak sulbi nya bahwa bapak sulbinya itu mati sebelum datang nya islam, atau setelah islam tapi ibu sulbinya jelas jelas kafir.
.
(c) wahabi harus menjelaskan bahwa laki laki itu benar benar menanyakan perihal bapak sulbinya itu karna mengakui kemusyrikan ibu sulbinya karena ikut kebiasaan jahiliyah.
.
(d) wahabi harus menjelaskan bahwa nabi saw menjawab dengan jawaban asli. bukan tauriyah. (jawaban singgungan agar pendengar salah faham demi kebaikan : agar tidak di susahkan karna kefikiran terhadap kekafiran orang lain yang di cintai karena nasab : wa la yahzun ka kufruhu)
.
(e) yakni wahabi harus menjelaskan bahwa nabi saw itu benar benar menyatakan perihal bapak sulbi nya. bukan bapak pengasuh nya.
.
Tampa memenuhi tuntutan sikap kritis ini maka pendalilan akan kekafiran ibunda atau ayahanda nabi saw tidaklah meyakinkan (tidak tsubut dilalah nya)
.
Point ke 3 ini timbul karena timbulnya point ke 4 yaitu
.
(4) Sebab yang membuat ayah Nabi Muhammad masuk ke dalam neraka adalah karena dia mati dalam keadaan menganut kepercayaan syirik penyembahan berhala
.
Sanggahan usulan point ke 4:
.
Point ke 4 Erat sekali hubungan dengan zaman fatroh. maka saya berkata :
.
(a) Pengkafiran orang tua nabi dengan melirik keumuman zaman fatroh.
.
dizaman fatroh terdapat banyak orang yang tidak ikut agama jahiliyah. Diantaranya yaitu abdullah ibn salam, Waroqoh ibn naufal,
zaid ibn amr ibn nufail, (dan 1 orang dalam hadits shohih pada kitab riyadlus sholihin yang bersaksi atas kejahilan kaum jahiliyah sebelum datangnya islam dimana dia langsung iman ketika mendengar dakwah tauhid semasa dakwah sembunyi tapi disuruh pulang dulu oleh nabi saw lalu dia pulang ke madinah dan menjadi salah satu dari kaum anshor ketika islam hijrah ke madinah) dan lain lain nya, jadi tidak bijaksana jika orang tua nabi saw di hukumi kafir atau syirik gara gara hidup dan mati di zaman fatroh (di masukkan kepada mayoritas).
.
(b) Pengkafiran orang tua nabi dengan alasan sampainya ajaran rosul sebelum nya walau dikatan zaman fatroh.
.
zaman fatroh adalah zaman punahnya kerosulan . musnahnya kerosulan di sebabkan beberapa hal
.
(01) rosul dan penerusnya yang mukmin sudah tiada. sehingga tiada lagi manusia yang dapat dijadikan tempat bertanya. dan kalaupun bertanya maka jawaban nya adalah kejahilan.
.
(02) kitab nya sudah tiada atau di sembunyikan atau di rubah kepada yang bathil (manusia di buat keliru dan bingung dalam memahami isinya). sehingga tiada lagi kitab yang bisa di jadikan rujukan dalam agama.
.
alqur-an mengakui perubahan kitab samawi dalam ayat “Yuharrifuuna lkalima min ba’di mawaadli’ehi”. dengan sebab tahrif ini terjadilah zaman agama jahiliyah.
.
(03) berbedanya tempat utusan, karena rosul rosul terdahulu itu di utus pada suatu kaum tertentu, Bukan untuk seluruh manusia. seperti injil dan taurot untuk bani isroil, ismail untuk mekkah, dan seterusnya. jadi negri yang dakwah tauhid tidak balagh ke negri itu, maka negri itu adalah fatroh.
.
allah memang mengutus utusan tapi tidak sampai atau sampai tapi yang sampai itu bathil nya. seperti kaum jahiliyah yang sampai kepada mereka ajaran rosul yang telah dibuat menjadi bathil hingga datangnya utusan allah muhammad saw, maka sejak inilah akhir fatroh itu dan sejak ini pulalah kesyirikan jahiliyah yang sebelum nya tampa hukum (karena kefatrohan) sekarang menjadi terhukumi (karena ke fatrohan itu berakhir). siapa yang mau di imani jika tidak ada sampai dan kepada siapa harus beriman jika kebenar sudah berubah menjadi kebathilan.
.
Jika salah satu dari 3 hal ini masih ada, yakni jika masih sampai kepada mereka ajaran nabi sebelum nya melalui kitab asli dan pengikut asli yang berkewajiban menyampaikan ilmunya, itu bukan “zaman fatroh” namanya dan tidak mungkin allah menyebutnya “zaman fatroh”. yakni zaman keterbengkalaian.
.
Seperti pada zaman sekarang (zaman umat muhammad) tidak ada lagi kata kata “zaman fatroh” karena kitab alqur-an akan tetap abadi dengan keaslian nya.
.
Adapun seorang mukmin yang tidak berkewajiban menyampaikan ilmunya oleh karena dapat membahayakan dirinya jika disampaikan (seperti nabi nabi yang dibunuh), maka dia tidak bisa di sebut “rujukan” manusia.
.
setelah 3 keriteria itu sudah tiada, maka disinilah berawalnya zaman jahiliyah yang fatroh itu.
.
(5) sebagaimana yang akan dijelaskan oleh Imam An Nawawi setelah ini.
.
Sanggahan usulan point ke 5:
.
ini seakan akan mau menampakkan bahwa imam nawawi juga berfahaman sebagaimana wahhabiyun dalam masalah ini padahal menurut saya beliau berbicara secara umum
.
(6) Imam An Nawawi rahimahullah di dalam kitab Syarh Shahih Muslim memberikan judul untuk hadits di atas:
.

باب بيان أن من مات على الكفر فهو في النار ولا تناله شفاعة ولا تنفعه قرابة المقربين

Artinya: “Bab: Keterangan bahwasanya barangsiapa yang mati di atas kekufuran maka dia akan masuk neraka. Dia tidak akan mendapatkan syafaat dan hubungan kekeluargaan tidak memberikan manfaat baginya.”
.
Sanggahan usulan point ke 6:
.
Memang tidak ada syafaat karena hubungan keluarga jika beda agama, tapi ada syafaat karena gembira akan datangnya kebaikan seperti pada hadits abu tholib yang terangkis dari neraka paling dasyat ke neraka yang ringan, ini menurut penulis blog itu sendiri. dia abu tholib hanya berbuat baik dan gembira atas nabi saw. apalagi yang mengandung dan melahirkan dan menjadi sebab sebab kelahiran nya. Tentu itu lebih besar pengaruhnya dari pada yang dilakukan abu tholib dan lepas dari kata ‘ingkar’ kepada nabi saw.
.
dalam pemberian judulnya pun imam nawawi tidak menampakkan kelancangan sedikitpun dan tidak menegaskan kekhususan dan lebih kepada bersikap umum
.
(7) Imam An Nawawi memberikan penjelasan mengenai hadits di atas. Beliau berkata:
“Di dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa barangsiapa yang mati di atas kekufuran maka dia akan masuk neraka dan tidak bermanfaat baginya hubungan kekeluargaan.
.
Di dalam hadits ini juga terdapat keterangan bahwa barangsiapa yang mati pada masa fatrah /masa kekosongan/ ketiadaan nabi dan rasul (dalam keadaan dia menganut kepercayaan bangsa Arab yaitu penyembahan berhala, maka dia termasuk penghuni neraka.
Hal ini tidaklah bisa digugat dengan mengatakan bahwa hal ini terjadi sebelum sampainya dakwah Islam kepada mereka,
.
karena sesungguhnya dakwah Nabi Ibrahim dan para nabi yang lain yaitu dakwah tauhid shalawatullahi ta’ala wa salamuhu ‘alaihim- telah sampai kepada mereka.
.
Adapun perkataan Nabi : “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di dalam neraka.” Ini merupakan suatu budi pekerti yang baik, yaitu menghibur seseorang dengan mengatakan bahwa mereka sama-sama mendapatkan musibah yang sama.”
.
Demikianlah penjelasan dari Imam An Nawawi rahimahullah ta’ala
.
Sanggahan usulan point ke 7:
.
Jika imam nawawi benar benar berkata seperti itu, akan tetapi imam nawawi memberikan syarat “mati di zaman fatroh plus mati dalam keadaan ikut agama jahiliyah” dimana beliau tidak mengatakan dengan jelas ayahanda dan ibunda nabi saw termasuk ke dalam syaratnya. karena memang banyak manusia yang hidup dan mati di zaman fatroh tapi tidak ikut agama jahiliyah. Akan tetapi yang di klaim sebagai perkataan imam nawawi oleh si penulis blog itu tidak sepenuh nya di ambil oleh si penulis blog itu sendiri yaitu ketika si penulis blog tadi di akhir akhir tulisan nya mengatakan :
.
“Benar, mungkin saja ada sebagian individu bangsa Arab (maksudnya yang hidup semasa zaman fatroh dan dia musyrik /tak kenal kebenaran) yang tidak pernah mendengar tentang dakwah para nabi. Urusan mereka akan di selesai kan oleh Allah kelak di hari Akhirat”.
.
nah ini berarti kata syirik dizaman “fatroh” itu tidak menjadi alasan seseorang masuk ke neraka jika tidak sampai kepada mereka dakwah rosul atau bahkan sampai tapi sama saja dengan tidak sampai (oleh karena telah di rubah) apalagi orang orang atau kaum yang seorang rosul tidak di utus untuk mereka.
.
pindah ke fashal kedua yaitu pengkafiran terhadap ibunda nabi saw.
.
dalam bab pengkafiran ibunda nabi saw yaitu sitti aminah oleh wahhabi pada suatu artikel blog diatas setidaknya ada empat (3) point yang tampak janggal. diantara nya yaitu :
.
(1) Dalil yang menunjukkan atas kafirnya Aminah bintu Wahb, ibunda Nabi Muhammad
.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata:
.

زَارَ النّبِيّ صلى الله عليه وسلم قَبْرَ أُمّهِ. فَبَكَىَ وَأَبْكَىَ مَنْ حَوْلَهُ. فَقَالَ: اسْتَأْذَنْتُ رَبّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأذِنَ لِي

.
Nabi pergi berziarah ke kubur ibundanya. Lalu beliau menangis sehingga membuat orang-orang yang disekitarnya ikut menangis pula. Beliau berkata ‘Saya telah meminta kepada Rabbku agar saya diizinkan untuk memohon ampun baginya, namun Allah tidak mengizinkanku. Saya meminta kepada-Nya agar saya diizinkan untuk menziarahi kuburnya, dan Allah mengizinkanku (HR Muslim 976)
.
Sanggahan usulan point ke 1:
.
sikap kritis dan tabayyun
untuk mengkafirkan ibunda nabi saw dengan hadits ini, maka wahabi wajib mendatangkan bukti bukti.
.
(a) asbabul wurud, wahabi harus menjelaskan bahwa tempat kuburan yang di datangi nabi saw dalam ziarah itu berupa tempat yang bernama abwa. karna ibunda nabi saw di kuburkan di abwa. dan sehingga kata kata “qorobah” (keluarga dekat) itu di tujukan pada walidah beliau bukan bibi bibi yang mengasuh nya. karena kata kata qorobah itu luas. bisa mengena pada siapa saja dari keluarga dekat.
.
tampa mengetahui sababul wurud seperti yang telah di sebutkan, maka kata “ummu” dalam susunan hadits ini tidak bisa serta merta di fahami sebagai “waalidatun”.
.
(b) atau wahabi harus menjelaskan bahwa setiap kata ummu adalah bermakna waalidatun (ibunda yang melahirkan). termasuk dalam hadits ini.
.
Kenapa harus demikian karena sebagai umat islam wahabi harus super extra hati hati, keharusan hati hati ini adalah di dasarkan pada hadits lain yang kontra terhadap hadits diatas. yaitu hadits tentang thoharoh (suci) nya nasab nabi saw dari atas dimana ujung ujungnya sifat kesucian sulbi itu dinisbatkan pada nabi ismail bin ibrohim yang jelas jelas keduanya adalah suci dalam i’tiqodnya.
.
(c) itu juga adalah hadits yang bermakna madah /pujian dari tuhan dan rosul. tidak mungkin tuhan dan rosul memuji sulbi kafir. beda dengan ayat celaan oleh tuhan dan rosul tentang najisnya orang musyrik.
.
(d) hadits tentang thoharohnya nasab nabi saw ini tidak bisa di tolak dengan ucapan orang kafir yang berupa “apakah anda (abu tholib) ingkar pada agama abdul muttholib?” Dimana ini adalah ucapan orang kafir (tidak tsiqoh) tentang abdul muttholib yang nabi saw tidak tahu terhadapnya sehingga bisa dijadikan rayuan kepada abu tholib dan nabi saw.
.
jikalaupun memang kesaksian orang kafir durhaka dan licik itu benar, maka hadits tentang abdul muttollib dan abu tholib itu tidak bisa dijadikan dalil kekafiran seluruh nasab nabi saw. tetapi khusus salah satunya atau keduanya saja.
.
seperti ketika orang jawa bilang “apakah kamu mengkafirkan leluhur kita?” Maka maksud dari perkataan ini bukanlah khusus leluhur nasab si yang ditanya itu tapi keseluruhan leluhur dari kaum semuanya.
.
(2) Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ta’ala di dalam Al Qur`an:
.

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

.
“Tidaklah boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun)kepada Allah (bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam (QS At Taubah)
.
Sanggahan usulan point ke 2:
.
kita tahu bahwa kata kata “qorobaat” (kerabat) famili itu bukan khusus kerabat paling dekat saja. seperti ayah syaqiq, ibu syaqiq, dan anak syaqiq, dan juga saudara syaqiq. tapi mengumumi semua famili. seperti paman syaqiq, bibi syaqiq, sepupu, keponakan dst. dimana kita sudah familiar dengan keterangan kekafiran banyak orang famili nabi saw. semestinya dalil ayat di atas langsung di artikan kepada mereka, bukan kepada orang orang tiada keterangan /dilalah yang tsubut akan kekafiran nya. apalagi memang tidak pernah kafir kepada nabi saw dikarenakan hidup dizaman fatroh, kembalilah ke pembehasan zaman fatroh di atas. biar nyambung.
.
jika ternyata orang tua nabi saw tidak kafir, maka penggunaan ayat ini adalah sebuah pentahrifan yang besar.
.
(3) Inilah sebabnya mengapa Nabi Muhammad dilarang untuk memintakan ampun bagi ibundanya
.
Sanggahan usulan point ke 3:
.
Stateman semacam ini seharusnya tidak pernah ada sebelum keterangan itu tsubut dimana salah satu tuntutan atas tsubutnya dilalah, itu seperti yang saya tawarkan barusan di point ke 1 dan lain lain nya.
.
Sampai disini dulu corat coret saya kali ini wassalamu ‘alaykum wrb
.

Iklan