KAIDAH WAHHABIYAH YAHUDIYAH DUSTAWIYAH
.
لوكان خيرا ما سبقونا اليه
.
“andaikan islam /tauhid itu baik maka mereka orang orang rendah yang ikut kamu itu tidak akan mendahului kami masuk islam” (ahqof 11)
.
Ini adalah kaidah kepunyaan tokoh tokoh kuffar makkah ketika mereka di ajak masuk islam oleh nabi saw. Mereka mengatakan demikian karna mereka merasa lebih pintar, lebih cerdas, dan lebih di cinta oleh tuhan karna pada dhahirnya mereka lebih bernasib baik dan mulya (“nahnu abnaa-u llahi wa ahibba-uh” almaidah 18) . Oleh karna itu andai saja allah menginginkan kebaikan dan kebenaran dalam agama ataupun dalam hal lain, tentu saja allah akan lebih memilih mereka dari pada yang lain nya. Itulah anggapan palsu mereka. Jadi kaidah ini adalah kaidah yang di gunakan untuk menolak perkara hak oleh kuffari makkah.
.
Kemudian selang beberapa kurun kemudian kaidah batil yang telah ratusan tahun di lupakan dan di anggap menjijikkan terangkat kembali ke permukaan dengan lahirnya aliran baru dalam islam yang menamakan diri dengan “salafi” (sebuah nama yang di munculkan untuk memperbaiki identitas aliran baru ini) di mana pada awalnya aliran ini di kenal dengan sebutan “wahhabi” ( islam baru aliran muhammad ibn abdul wahhab an najdi /nejed). Kaidah ini mereka gunakan kembali untuk menolak keabsahan islam ahlus sunnah waljamaah (aswaja).
.
Kaidah termaksud yaitu :
.
لو كان خيرا لسبقونا اليه
.
“andaikan islam ahlus sunnah yang membenarkan adanya bid’ah hasanah itu baik , maka sahabat pasti sudah akan mendahului kita mengamalkannya” (ini makna nya secara umum)
.
Mereka wahhabiyun mengatakan demikian karna dalam anggapan palsu mereka tidak ada bid’ah hasanah. Andaikan benar ada bid’ah hasanah maka para sahabat sudah tentu telah mendahului kita melakukan nya. Paling tidak apa yang di anggap hasanah itu sudah terjadi pada jaman sahabat atau pada jaman nabi saw. Maka oleh karna tidak terjadi pada jaman sahabat atau jaman nabi saw berarti para sahabat memang sengaja tidak melakukan nya (tidak meyakini ada nya bid’ah hasanah) karna memang tidak baik. Demikian menurut mereka.
.
Perkara Yang di jadikan tendensi awal dalam kaidah ini adalah “jaman sahabat”. (tidak di lakukan /tdak terjadi pada jaman sahabat) akan tetapi jika terbukti ternyata terjadi di jaman sahabat, maka tendensi “jaman sahabat” di buang oleh mereka dan di ganti dengan tendensi kedua (susulan) yaitu “jaman nabi saw” . Yakni mereka akan tetap menghukumi bid’ah (haram) pada apa apa yang tidak terjadi pada jaman nabi saw sekalipun terjadi pada “jaman sahabat” (apa apa yang tak terjadi pada zaman nabi adalah bid’ah) padahal sebelum nya mereka mentendensikan kaidah nya itu pada “zaman sahabat” dan mereka mengatakan mereka itu adalah pengikut sahabat (ulama salaf), oleh karna itu mereka menamakan dirinya dengan “salafi” (pengikut setia ulama salaf)
.
pada awalnya mereka memaksudkan “jaman sahabat” itu adalah setelah jaman nabi saw, kemudian jika “jaman sahabat” tidak sesuai dengan tabiat mereka maka mereka memaksudkan nya pada “jaman sahabat tetapi semasih nabi saw hidup” yang berarti adalah jaman nabi saw sendiri 😀 ,,,,,, kemudian jika lagi belum sesuai dengan tabiat mereka maka mereka ” membanding bandingkan sahabat dengan nabi saw” [“] “apakah kamu mendahulukan perkataan umar dari pada perkataan muhammad? ” [“] ((dengan arti mereka mengkambing hitamkan para sahabat setelah nabi saw tiada”))
.
pada intinya sebenar nya mereka tidak bertendensi pada “jaman sahabat” akan tetapi pada “jaman nabi saw” sendiri. Terbukti ketika ada banyak hal yang terjadi pada jaman sahabat seperti adzan dua kali pada pelaksanaan sholat jum’at di mana hal ini tidak terjadi di zaman nabi saw , itu juga mereka anggap bid’ah haram /sesat sekalipun seluruh para sahabat setuju (ber-ijmak) akan kebaikan nya. (ulama umatku tidak akan setuju pada kemungkaran)
.
kaidah ini tidak pernah di pakai oleh siapapun baik oleh tuhan (“ma nansah min aayatin aw nunsiha” albaqoroh 106), atau oleh nabi saw, sahabat, atau tabi’en ataupun para ulama sebelum nya kecuali oleh wahhabi yang baru muncul setelah ratusan tahun mendiang masa sahabat. Rodlia llaahu ‘ahum.
.
Jika lebih di teliti lagi, maka secara umum kaidah dustawiyah mereka ini menjadi seperti di bawah ini :
.
“segala hal yang tidak ada pada masa dimana penentu kebenaran sudah muncul pada masa itu maka seketika itu pula segala hal tadi di anggap sesat apabila tidak di akui oleh penentu kebenaran itu”
.
Ini terbukti ketika mereka mengatakan “tiada kebenaran kecuali yang keluar dari syari’ secara langsung, baik termasuk dalam keumuman dalil atau bahkan tidak termasuk dalam keumuman dalil, baik itu di jaman syari’ atau bahkan setelah nya, dan baik itu mendatangkan rukun baru atau tidak, baik merusak aturan lain atau tidak “.
.
Jika memang mereka bertendensi pada jaman nabi saw yakni pada jaman di mana penentu kebenaran telah di utus semestinya mereka juga melirik beberapa hal di bawah ini
.
[1] surat ikhlas, sahabat muawiyah
.
Muawiyah adalah sahabat yang mati syahid ketika perang. Di waktu kesyahidan nya (setelah matinya di medan perang) itu jutaan malaikat turun membawa keutaman keutaman untuknya sehingga nabi saw begitu takjub di buatnya. lalu nabi saw bertanya pada malaikat jibril a.s (kurang lebihnya begini) “karena apa gerangan muawiyah mendapatkan emua keagungan itu” , lalu malaikat jibril a.s menjawab (kurang lebihnya begini) “karna rutinnya membaca surat al ikhlash tampa henti ketika berdiri, duduk, dan tidur”
.
Ini jelas jelas sahabat muawiyah mengamalkan perintah umum dari perintah agar membaca alquran dan tampa dalil khusus sebelum nya tentang kerutinan nya itu dan juga tiada dalil khusus sebelum nya tentang pilihan nya /pengkhususan nya pada surat ikhlash itu. dan bahkan tampa ada “taqrir” untuknya dari nabi saw semenjak ia mengamalkan itu sampai ia syahid. Tapi apa yang ia amalkan ternyata begitu mulya nya disisi syari’
.
Taqrir ternyata bukan untuk menilai bagus tidak bagus nya suatu amalan akan tetapi termasuk haditskah atau bukankah suatu amalan itu,
.
[2] surat ikhlas, sahabat
.
Ada lagi sahabat yang begitu cinta nya pada surat ikhlash ia membaca nya dalam setiap sholat dari pada surat surat pendek yang lain dan hal ini di laporkan pada nabi saw, dan di laporkan juga alasan kenapa ia melakukan itu bahwa ia melakukan itu karna cinta, ternyata nabi saw memujinya (kurang lebihnya begini) “kecintaan nya terhadap surat ikhlash itu akan memasukkan nya ke surga”
.
Dengan demikian Ternyata amalan yang ia lakukan itu adalah terpuji Sebelum nabi saw menilai nya dengan pujian yang dahsyat itu. Kenapa demikian? Karna Kecintaan dan kerutinan nya ini sudah ada jauh sebelum di nilai terpuji secara khusus oleh nabi saw. rutinnya dan cintanya itu bukan muncul semenjak nabi saw menilai nya terpuji. (dimana nilai baiknya menurut wahabi harus ada semenjak di nilai baik oleh nabi saw, bukan sebelum nya, karna sebelum di nilai baik itu belum menjadi hadits, dan sebelum menjadi hadits maka di sebut bid’ah, tapi sangkaan mereka ini menyalahi pernyatan nabi saw tersebut). Kenapa gerangan nabi saw menila nya baik? Tentu saja Karna tidak keluar dari nurma nurma ibadah yang baik. ( tidak memunculkan rukun baru, tidak merusak dan tidak mengganggu aturan dan ibadah lain)
.
[2] sholat sunah 2 rokaat, sahabat bilal
.
Ini hampir sama dengan amalan surat ikhlas di atas. Yaitu tampa ada perintah dahulu dari nabi saw secara khusus sebelum nya. yang ada hanya perintah untuk beribadah sholat sunah.
.
Tampa perintah perutinan, pewaktuan, dan hitungan rokaat. Bahkan sahabat bilal sendiri yang menentukan kapan ia akan mengerjakan nya, berapa hitungan rokaat nya, dan juga putusan untuk terus merutinkan nya layak nya perintah khusus dan muakkad,
.
selang lama kemudian nabi saw teringat akan derajat keutamaan sahabat bilal bahwa nabi saw ketika isro’ mi’roj pernah mendengar bunyi sandal nya sahabat bilal di dalam sorga, lalu nabi saw bertanya pada sahabat bilal (kurang lebihnya begini) “karena ibadah apa gerangan yang tidak aku ketahuai sehingga kamu mendapat kemulyaan seperti itu wahai bilal? ” . Sahabat Bilal menjawab (kurang lebihnya begini) “tiada aku berwudlu’ kecuali aku sholat sunah dua rokaat setelahnya /setiap aku berudlu’ aku rutin sholat sunnah”
.
Hal ini bisa kita ambil beberapa kesimpulan /inti sari:
.
(a) Syari’ nya saja tidak tau apa yang membuat sahabat bilal menuai kemulyaan itu apa lagi akan menganjurkan nya secara khusus sebelum nya.
.
(b) Mau di bilang Sunah padahal nabi tak mengerjakan nya sebelum nya. Dan bahkan Syari’ tak menentukan waktu, hitungan, dan anjuran perutinan.
.
(c) dan sebelum di nilai baik secara langsung amalan ini sudah berstatus terpuji. Oleh karna itu nabi saw memuji nya. andai tidak terpuji maka syari’ saw tidak akan pernah memuji perkara batil.
.
(d) lalu menjadi hadits taqririyah oleh sebab syari’ saw sempat mengakui nya sewaktu pelaku dan syari’ masih ada.
.
[4] puasa asyuro’ , oleh yahudi
.
Kenapa nabi saw tidak pernah berkata begini “Andaikan ini baik maka mereka orang yahudi tidak akan mendahuluiku dalam mengamalkan nya” ? karna jelas jelas nabi saw “penentu kebenaran” tidak pernah menggunakan kaidah yahudiyah ini dalam menetapkan ataupun menolak kebenaran.
.
[5] karomah sahabat umar, dalam perintah jilbab
.
Nabi saw juga tidak mengtakan “hai umar, andaikan ini baik maka kamu tidak akan mendahuluiku dalam menganggap nya baik / mengusulkan nya sehingga di jawab dengan ayat oleh allah swt” Karna nabi saw tak pernah menggunakan kaidah yahudiyah itu dalam menolak kebenaran.
.
[7] perintah wajib puasa, haji, dll
.
Kenapa perintah ini tidak turun sejak awal islam saja, khan ini adalah kebaikan , padahal syari’ kebenaran sudah terutus dan sudah ada penentu kebenaran itu?, (misal : andaikan puasa itu baik maka “ketidak wajiban” nya tidak akan mendahului “kewajiban” nya)
.
alasan nya karna allah juga tidak memakai kaidah yahudiyah dustawiyah itu dalam menetukan kebenaran.
.
[6] adzan 2x jum’at, oleh para sahabat
.
Hal ini Ternyata di lakukan oleh sahabat, maka semestinya ini baik, tetapi kenapa masih di nilai bid’ah sesat oleh wahhabi, padahal mereka mengatakan “andaikan perkara baru itu baik maka sahabat sudah pasti lebih dulu melakukan nya”. Kenapa ini juga menjadi perbandingan dari kebingungan mereka, karna ini jelas jelas di lakukan oleh para sahabat sebelum kita melakukan nya. Tapi mereka tetap saja mengatakan nya sesat.
.
Kemudian untuk menolak pernyataan di atas mungkin saja para penganut islam aliran wahhabi itu akan berkata seperti ini ” di jaman nabi saw tidak ada kata kata bid’ah karna pada waktu itu syari’ masih hidup. Bid’ah hanya terjadi setelah nabi saw wafat. ” apakah benar demikian? Ternyata tidak, bid’ah itu juga terjadi pada zaman nabi saw diantara nya yaitu aliran islam khowarij dll,
.
Apalagi kata bid’ah menjadi lawan kata sunah menurut mereka, dimana kata sunah ini selama nya harus di dahului nabi saw atau di anjurkan oleh nabi saw secara khusus, jadi setiap amalan yang yang tampa di dahului sunah atau anjuran terlebih dahulu adalah bid’ah baik di zaman nabi saw ataupun setelah nya. Karna bid’ah adalah lawan sunah . Begitulah semesti nya. Akan tetapi apa yang mereka katakan ini adalah kebingungan buat mereke sendiri. Tidak konsisten dan berantakan.
.
Mereka juga mungkin akan bilang “andaikan ada bid’ah yang hasanah maka sahabat sudah pasti mendahului kita mengatakan nya / melakukan nya” SAYANG NYA para sahabat MEMANG melakukan nya baik di zaman nabi saw dan setelah zaman nabi saw. yaitu dalam semua hadits taQrir sebelum di taQrir adalah bid’ah .(menurut wahabi) walaupun kemudian ada yang sempat di taQrir untuk menjadi hadits, (bukan untuk menjadi benar karna sudah benar dari sebelum di taQrir oleh karena “benar” itu nabi saw membenarkan nya / mentaqrir nya. Andaikan tidak “benar” maka pasti nabi saw tidak akan membenarkan perkara batil) dan setelah zaman nabi saw pula sahabat juga melakukan nya, yaitu seperti adzan dua kali hari jum’at , sholat taraweh 20 rokaat full berjemaah di mesjid. maka apa yang mereka bilang tadi itu adalah kebingungan buat mereka sendiri.
.
Kemudian apakah para sahabat itu ahli bid’ah ? Tentu saja Tidak. Kenapa? Karna apa apa yang mereka lakukan itu tidak keluar dari nurma nurma ibadah yang baik. apalagi nabi saw pernah berkata (kurang lebih begini)
.
“ikutilah SUNAHku dan SUNAH khulafaur rosyidin setelahku”
.
“para sahabatku itu seperti bintang, pada siapa saja dari mereka kalian meminta petunjuk, maka kalian tertunjukkan”
.
“jangan kalian mengkambing hitamkan sahabat sahabatku setelahku, karna andai kalian bersedekah emas segunung maka tidak akan melampaui (tidak akan di nilai lebih baik di sisi allah dari pada) satu mud beras sadekah mereka”
.
Kemudin apakah melakukan bid’ah di zaman nabi saw itu di izinkan buat para sahabat sehingga mereka melakukan banyak amalan (yang bukan fardlu) tampa menunggu anjuran secara khusus dari nabi saw akan tetapi hanya dengan mencukupkan perintah umum dan asalkan tidak merusak ibadah /perintah lain dan tidak melahirkan aturan rukun baru /khusus yang lain? Tentu saja tidak, siapapun tidak akan pernah mendapat ijin untuk melakukan bid’ah di zaman nabi saw. Buktinya ada banyak hal yang tidak baik yang di tegur oleh nabi saw. Jadi (menurut saya pribadi) apa apa yang di lakukan sahabat itu adalah makna dari hadits hadits tentang bid’ah itu (dalam hal yang telah menjadi ijmak di sisi mereka, kemudian menjadi ilmu kefahaman untuk kita). Dan ini semua terjadi dalam ibadah yang di sebut ibadah mahdlah oleh wahhabiyun itu.
.
Sampai di sini dulu coretan uneg uneg pada kesempatan ini, mohon koreksi, dan bimbingan nya, wassalam ‘alaykum wr wb
.
edisi Sabtu 25 maret 2016
.

Iklan