siapa yang mentahlilkan nabi muhammad saw?
.
Bismi llaahi rrohmaani rrohiim wal hamdu li llaahi robbi l ‘aalamiin wa sholaatu wa ssalaamu ‘alaa rosuli llaah, amma ba’dah, saya awali artikel yang agak berantakan ini dengan menyebut nama allah dan syukur pada allah serta sholawat salam pada rosulullah saw dan untuk para keluarga nya dan untuk para sahabat nya.
.
Sebelum sampai pada jawaban pertanyaan ini secara langsung mari kita ketahui dulu beberapa hal di bawah ini,
.
Pertama : tujuan tradisi yang di namai dengan tahlilan tidak lain adalah hendak mendoakan orang yang sudah meninggal yang di lakukan dengan serentak dan bersama sama, kenapa di lakukan dengan serentak ? Ada tiga alasan kenapa tahlilan di lakukan dengan serentak, pertama adalah menjawab perintah agama agar mendoakan orang yang sudah mati. kedua, agar tidak ada yang ketinggalan dalam melaksanakan tuntutan mendoakan orang mati tersebut. Ketiga, agar cepat terkabul oleh karena doa berjemaah itu lebih yaqin akan di ijabah, (tidak berkumpul suatu kaum dalam dzikir kecuali karena allah {ma ajlasahum illa dzaka} maka mereka akan di selimuti rohmat allah = kecuali karna menjalankan perintah allah = tuntutan mendoakan orang mati maka, ,,, ,,, )
.
Kedua : tahlilan adalah istilah untuk kegiatan yang di dalam nya terdapat banyak perkara yang merupakan tuntutan agama. Melakukan banyak tuntutan agama dalam sekali kesempatan itu tidak di larang selagi bisa dan tidak merusak syariat lain nya.
.
Ketiga : membiasakan kaum pada hal hal yang baik, karena sesuatu yang baik jika tidak di biasakan akan segera terlupakan, membiasakan diri pada kebaikan ini juga tuntutan agama,
.
Keempat : berkorban , allah swt menyatakan dalam alqur’an bahwa manusia yang tidak menginfakkan apa apa dari harta yang di cintainya, maka ia tidak akan mendapat kebaikan yang sepenuhnya, padahal jika dalam acara perkawinan dll mereka itu sanggup berkorban, kenapa kalau untuk tinggi nya derajat orang tua di sorga dengan bersedekah yang banyak lalu mereka tidak mampu?
.
nah, berkorban dan mengutamakan yang lebih penting ini juga perintah agama.
.
Kelima : tradisi tahlilan adalah juga menjalankan perintah tawasow bil haqq, (pesan agama yang baik) pesan yang baik melalui tradisi dan ini amat menjanjikan, sehingga siapapun akan tau bahwa mendoakan orang mati dan mensedekahi mereka adalah tuntutan agama islam sekalipun tidak belajar lewat pengajian atau sekolah.
.
Keenam : mengesankan bahwa perintah mendoakan mayit ini adalah perintah agama, dan perintah agama itu adalah perkara yang besar sekalipun tidak wajib yang terus menerus seperti sholat, lima waktu , dengan cara ini, maka orang orang akan selalu menganggap nya besar turun temurun. Menganggap perintah agama adalah sesuatu yang besar adalah tuntutan agama pula apalagi dalam hal yang begitu amat gampang di lupakan seperti syariat doa untuk mayit ini. Karna sama sekali keutamaan dan balasan nya amat tidak terlihat oleh keinginan nafsu Manusiawi .
.
Ketujuh : kenapa di biasakan 7 hari ? dan 40 hari ? Karena adanya hadits / atsar dari thowus.
.
Seperti apa hadits thowus itu ? Lihat keterangan dan penjelasan nya di sini http://www.aswj-rg.com/2013/10/jawaban-atas-prasangka-dlaif-atsar-thawus-dan-fatwa-para-ulama-terhadap-ziarah-kematian.html. Kenapa hadits ini tidak terkenal ? Kita tau bahwa Ketidak terkenalan suatu kebenaran bukanlah bukti kelemahan ataupun kebatialan nya. hadits thowus yang tsiqoh dan menjadi imam tabien tersebut bersaksi begitulah kegiatan ulama salaf sampai sekarang (sampai di zaman thowus masih hidup) yang artinya itu adalah kegiatan para sahabat, sementara kegiatan para sahabat adalah saksi dari pada kegiatan rosul saw. Oleh karna itu ulama menyebutnya berada pada tingkat hadits marfu’ dalam kesimpulan tiga riwayat hadits Itu . Jadi acara doa untuk mayit itu bukan hanya ada pada zaman islam jawa tapi sudah seribu tahun sebelum islam datang ke jawa.
.
Jangan mengira yang 7 hari ini adalah pengkhususan terhadap 7 hari sehingga jika berdoa untuk mayit sebelum atau setelah nya adalah salah, sama sekali tidak kebiasaan ini amat tidak mengesankan ini, tapi kenapa sahabat lebih memilih (sebagai pilihan bukan penghususan) yang 7 hari itu, maka di jawab dalam atsar marfu’ itu bahwa dalam 7 hari bagi orang mukmin atau 40 hari bagi orang fasik itu di tanyakan / di uji oleh malaikat.
.
Kemudian ada seseorang yang isykal dari umat wahabi, bahwa atsar marfu’ ini melahirkan i’tikad baru tentang akan di uji nya mayat dalam 7 hari atau 40 hari padahal dalam hadits hadits tidak menyebutkan berapa hari waktu ujian kepada mayit itu bahkan hadits hadits itu mengesankan bahwa ujian hanya terjadi sekali saja yaitu pada saat sebentar setelah panguburan. dan seharus nya menurut para imam – i’tikad itu hanya di peroleh dari hadits hadits shohih bukan yang lain. Maka jawaban nya adalah kita tidak boleh lupa pada status atsar itu yang derajat nya sampai pada hukum hadits marfu’. silakan kita lihat penjelasan nya di situs ini http://www.aswj-rg.com/2013/10/jawaban-atas-prasangka-dlaif-atsar-thawus-dan-fatwa-para-ulama-terhadap-ziarah-kematian.html
.
Alhasil kita seleruh muslim ahlus sunnah waljamaah pecinta setia tahlilan sedari jaman sahabat sudah memenuhi tuntutan kaidah yang di lahirkan oleh umat wahabi ratusan tahun kemudian, yaitu semua itu sudah di dahului ulaa salaf dalam melaksanakan nya. Bahwa wahabi mengatakan : andai itu baik maka para sahabat sudah pasti mendahului kita melakukan nya.
.
Kedelapan : apakah pantas ini di lakukan pada nabi ? Oleh karena tahlilan ini identik dengan memohonkan ampunan kepada tuhan untuk mayit, maka jawaban nya “Tidak pantas sama sekali”, karena nabi saw tidak punya dosa ataupun kesalahan yang harus sahabat mintakan ampunan kepada tuhan untuk beliau saw. Nabi saw tidak butuh syafaat dari umat nya untuk masalah pribadi nya, apa kata dunia jika kita membuat kerumunan memohonkan ampunan dosa untuk nabi muhammad saw yang maksum itu ? !!!!!!! Jangan sampai kita memperlihatkan atau memberi kefahaman kepada manusia bahwa nabi saw punya dosa, ini sangat keliru sekali bagi keyakinan kita sendiri ataupun bagi anggapan orang yang beda agama.
.
Apalagi pada waktu kewafatan manusia teragung sedunia akhirat itu umat menjadi mabuk dalam kesedihan yang amat mendalam. Mereka sibuk dalam kegentingan menghadang dan mengantisipasi banjirnya keburukan keburukan musuh musuh yang kuat, para murtaddin dan orang orang munafik yang bergabung ditengah tengah kaum muslim dimana basis islam saat itu cuma mekkah dan madinah. sedang banjir nya keburukan keburukan itu bisa saja mengancam setiap saat.
.
jadi siapakah yang mentahlilkan nabi saw ketika nabi saw wafat dan siapa yang menjadi komando tahlilan nya?
.
Jawaban nya (bagi saya pribadi) adalah tidak akan pernah ada orang, baik dari kalangan sahabat atau setelah nya, yang merasa pantas untuk memohonkan ampun atas dosa nya nabi saw yang tak berdosa. Dan tidak ada orang yang merasa pantas untuk men-syafaati nabi muhammad saw di hadapan tuhan yang amat meng-istimewakan nya yaitu allah swt. dan pula tidak akan pernah ada yang merasa pantas untuk memohonkan “tatsbit” selema 7 hari itu untuk beliau yang langsung menjadi penghuni sorga semenjak ruhnya keluar dari jasadnya dimana tak perlu lagi mendapat ujian dari malaikat penjaga kubur.
.
Sampai di sini dulu artikel artikel-an kali ini, 🙂 🙂 🙂 mohon koreksi dan mohon bimbingan nya, ,,,, was salam ‘alaykum wr wb
.
Edisi ahad 28 maret 2016
.

Iklan