“MAU-KAH KAMU DI JAHATI MESKI KAMU SENDIRI JAHAT?”
.
Kenapa indonesia mewajibkan bangsanya untuk menganut kepercayaan agama? Dan kenapa indonesia membenci komonisme? Jawaban-nya, meskipun komonisme itu kurang diminati didunia ini, Karna secara normal :
.
1. Manusia punya nafsu jahat dan Manusia akan tertekan nafsu jahatnya dengan aturan dan hukuman/ancaman. jika negara komonis hanya dapat menekan nafsu jahat bangsa athesnya dengan tiga hal yakni aturan dan hukum negara, adap tradisi, dan kemanusiawian, maka negara agamis dapat menekan nafsu jahat bangsa agamisnya dengan empat hal, yaitu aturan dan hukum negara, adab tradisi, kemanusiawian, dan agamawi,
.
Tidak ada masing masing dari manusia berakal sempurna (non gila non kolot) yang mau dijahati dan pasti ingin agar kejahatan itu diminimalisir. Jika bangsa komonis dapat mengancam perlakuan jahat orang athes dengan hukuman negara, hukuman adab tradisi, dan hukuman adab kemanusiaan, maka bangsa agamis dapat mengancam perlakuan jahat orang agamis dengan hukuman negara, hukuman adab tradisi, hukuman adab kemanusiawian, dan hukuman keagamaan yaitu hukum karma, siksa kubur, siksa alam kelanjutan, dan juga qishos. Dengan begitu Maka genaplah ancaman empat arah. Ancaman depan, ancaman belakang, kanan dan kiri.
.
Ancaman agama itu lebih kuat dari sekedar ancaman negara, sosial, dan kemanusiaan. Karna pertama negara bisa di bungkam dengan sogok, sosial bisa diatur dengan rekayasa, dan kemanusiaan bisa di cegah dengan sembunyi sembunyi dan lain lain. Sementara ancaman agama, itu tidak bisa dibungkam dengan sogok, tidak bisa direkayasa, dan tidak bisa lepas dari ancamannya dengan sembunyi sembunyi. Kedua, ancaman agama lebih meresap ke dalam hati dan perasaan. Karna tempat keyakinan terhadap agama itu ada dalam hati dan perasaan.
.
Seklipun yang demikian itu bukanlah jaminan akan sucinya dunia ini dari kejahatan, namun Harapannya, adalah mudah mudahan kejahatan itu akan lebih bisa diminimalisir dengan cara oknum pembawa kejahatan itu di lilit dengan rantai rantai aturan dan ancaman yang sudah pasti lebih menguasai dirinya dari pada dirinya sendiri. Itu semua merupakan keamanan dan ketentraman bagi jiwa, harta, keluarga, bangsa dan negara. Begitu juga bagi binatang dan tetumbuhan.
.
2. dari segi rasa cinta terhadap kebaikan, Meskipun tampa ancaman, seorang agamis akan cinta pada kebaikan dan akan lepaskan diri dari kelakuan jahat nafsunya, karna agama punya janji pasti baginya sekarang atau nanti. dengan demikian maka hati dan perasaannya akan cendrung melupakan perbuatan jahat. Dan akan terbuai dalam kebaikan kebaikan.
.
Lepas dari benar atau tidaknya sebuah agama, Setiap agama itu mengajarkan ketulusan yang tertanam dalam hati dalam berbuat kebaikan. Tampa pamrih dan tampa syarat. Tampa sombong. Tampa ujub dan tampa riya. Dimana kita tau semua sifat itu dapat mencegah munculnya keinginan terhadap kebaikan yang lebih banyak.
.
3. Menerima dan memegang kepercayaan agama yang dianggap suatu kebenaran itu merupakan ketinggian budi luhur tradisi nenek moyang bebuyutan kita. Oleh karna itu sepantasnyalah kita menjaga tradisi darah daging kita tersebut yakni “tradisi menerima dan memegang kepercayaan agama yang dianggap benar oleh masing masing kita”.
.
Kita tak perlu merasa salah tingkah ataupun merasa risih ketika mendengar seseorang dari suatu aliran sesat sempalan dari islam dengan nada mengejek berkata “KALIAN IKUT AGAMA TURUNAN NENEK MOYANG” (yang menurut mereka nenek moyang kita itu bodoh dan jauh dari logika dan kebenaran)” toh allah (tuhannya orang islam) sendiri dalam alqur’annya menganjurkan untuk MENGIKUTI PEGANGAN NENEK MOYANG selama “pegangan nenek moyang” itu benar bahkan anjuran tersebut DIURAI DALAM SEMBILAN AYAT.
.
diantara ayat ayat yang sembilan tersebut nya yaitu Dalam Surat yusuf 38 (“dan aku ikut agama nenek moyangku yaitu ibrohim …….. ) dan Surat alhajj 78 (“dan ikutilah agama nenek moyang kalian yaitu ibrohim………).
.
KENAPA QUR’AN MENGANJURKAN UNTUK IKUT PEGANGAN NENEK MOYANG YANG BENAR? Karna kebenaran tidak ditentukan oleh waktu, kepintaran, suku, bangsa, dan bukan hanya ada sekarang. Namun sudah mulai dari dahulu kala di zaman nenek moyang tersebut. Maka kelirukah kita sebagai “turunan nenek moyang” kalau kita MELESTARIKAN KELUHURAN TRADISI NENEK MOYANG kita (Yakni menerima dan memegang kebenaran agama kepercyaan) ? Tentu saja tidak dan bahkan itu wajib. Kalau bukan kita siapa lagi. Dan selayaknyalah kita menentang komonisme pki dan komonisme lain lainnya.
.
4. Tambahkan !!! ……….
.
Note:
Terus jika agama itu jalan aman, kenapa kok ada bentrok antar agama? Jawabannya itu semua karna fitnah fitnah yang sengaja digesek2kan oleh oknom “tukang adu domba”. Adapun “fitnah adu domba” itu lebih banyak terjadi pada selain “antar agama”. maka masalahnya itu bukan agama, tapi “fitnah yang mengadu domba” tadi.
.
Was salam wr wb.