MENENTUKAN SENDIRI HITUNGAN DZIKIR, SESATKAH? BAB 1
.
.
Diantara amalan aswaja yang di tuding sesat oleh wahabi adalah dzikir ala aswaja. Yakni dzkir yang kadang kadang kita memilih sendiri hitungan, waktu, nya. Kadang pula pakai komando, dan itu semua dalam dzikir yang memang tidak di tentukan caranya oleh agama.
.
Secara umum pelaksanaan dzikir itu ada dua macam :
.
1. Agama kadang kadang menentukan suatu macam dzikir pada suatu :
.
Hitungan
tempat
Waktu
Keadaan
Suara samar atau keras
Niat
Adab
Sendirian
Berjemaah
Serentak /satu suara
Diam
Berjalan
Berbaring
Sebab
Komando
Rutin
Orang khusus
Dan lain lain
.
Dalam dzikir yang di tentukan ini maka agamalah yang menentukan semua nya termasuk hitungan dan lain lain nya sebagaimana di sebutkan. Ini di sebut dzikir khusus. Yakni dalam cara pelaksanaan nya. Sehingga bisa di katakan keliru (menyalahi aturan sunnah yang sempuna) jika tidak sesuai dengan cara yang di anjurkan.
.
Oleh agama telah menentukan cara nya secara detail, dan tidak memebebaskan cara pengerjaan nya maka tentu saja pelaksana tidak boleh melakukan nya sesuai kehendaknya sendiri. Dan jika tidak di laksanakan sesuai aturan maka pelaksana tidak di katakan melakukan sunah secara khusus. Pahala akan kurang dan di sebut melakukan sunah dzikir umum.
.
2. Kadang pula agama tidak membatasi cara nya baik dalam :
.
Hitungan
tempat
Waktu
Keadaan
Suara samar atau keras
Niat
Adab
Sendirian
Berjemaah
Serentak /satu suara
Diam
Berjalan
Berbaring
Sebab
Komando
Rutin
Orang umum : siapa saja
Dan lain lain
.
Dalam dzikir bagian kedua ini agama tidak ikut menentukan cara pelaksanaan nya termasuk hitungan dan lain lain nya sebagaimana yang saya rinci tersebut. Ini di sebut dzikir umum (bebas) dalam cara melaksanakan nya. Sehingga tidak ada batasan batasan tertentu dan tidak ada aturan khusus yang harus di katakan melanggar aturan.
.
Oleh karena agama tidak menentukan suatu cara dan tidak mengikat seorang hamba pelaksana pada suatu cara dan bahkan membebaskan pelaksana itu untuk melakukan nya sesaui kehendak dan sikon nya, maka pelaksana boleh melakukan nya sesuai kehendak nya sendiri. Ia bebas dari terikat oleh suatu macam dzikir dan bebas dari terikat oleh suatu cara.
.
Termasuk dari pada hal hal yang di tuding sesat oleh wahabi dalam masalah dizkir ialah menentukan sendiri pada hitungan dzikir yang tidak ada ketentuan tersendri dalam hitungan nya dari agama.
.
Contoh menentukan cara sendiri dalam melaksanakan dzikir umum yaitu :
.
” Saya saat ini akan berdzikir
Dengan dzikir ini
7 hari (waktu)
100 hitungan (jumlah)
Dalam keadaan berdiri (keadaan)
Di kamarku ini (tempat)
Sendirian (keadaan)
Dengan rutin (keaadaan)
.
Tetapi di lain waktu Saya akan berdzikir
Dengan dzikir ini
1 hari (waktu)
10 hitungan (jumlah)
Dalam keadaan tidur (keadaan)
Di mushollaku ini (tempat)
berdua dengan istri (keadaan)
Dengan sekali saja (keaadaan)
.
Dan di lain waktu lagi saya merubah pilihan saya sesuai kehendak saya dalam waktu atau keadaan yang sama atau keadaan yang berbeda ”
.
Yang demikian Ini di sebut memilih pilihan sendiri. Dan menentukan pilihan sendiri. Dari banyak cara yang tiada batas nya. tetapi oleh wahabi penentuan seperti dalam contoh itu malah di anggap mentakhsis. Memang nya yang di katakan takhsis itu apa?
.
1 (takhsis agamawi | penentuan sekaligus pengharusan)
.
Yang di katakan takhsis menurut agama yaitu mengarahkan dalil umum pada pada satu kejadian tertentu saja. Walaupun dalil tersebut mengumumi banyak kejadian. Sehingga akan di katakan salah jika dalil tersebut di arahkan pada lain nya. Seperti firman allah swt “wahai orang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan” ini mengumumi semua orang yang memakai selimut akan tetapi maksudnya adalah satu orang yang berselimut saja yaitu nabi muhammad saw. Dan akan dikatakan salah jika diartikan pada yang lain nya. Dengan kata lain yaitu memilih satu diantara yang lain sekaligus akan salah jika memilih yang lain. Dan ini bersifat pasti.
.
Begitu juga dalam masalah dzikir. Dzikir khusus adalah dzikir yang caranya sudah di tentukan oleh agama. Walaupun ada cara lain yang bisa di lakukan untuk melaksanakan nya. Dan akan di anggap salah jika tidak memilih cara yang telah di atur agama tersebut.
.
2 (takhsis | ta’yin bahasawi | penentuan sebatas memilih tampa pengharusan)
.
Yang di sebut ta’yin yaitu memilih seuatu diantara sesuatu yang banyak (tampa batas) dan tidak apa apa jika memilih yang lain nya. Dengan kata lain memilih satu saja dari sesuatu yang banyak tampa ada keharusan untuk memilih salah satu. Dan tidak dia anggap salah jika memilih yang lain nya.
.
Begitu juga dalam masalah dzikir. Dzikir umum adalah dzikir yang caranya tidak di tentukan oleh agama. Cara pelaksanaan nya bebas. Dan tidak di anggap salah jika memilih atau tidak memilih salah satu di antara yang banyak tersebut. Dan ini bersifat bebas.
.
ta’yin ini tidak sampai pada derajat takhsis sebab tidak mengharuskan atau tidak menyalahkan cara cara tertentu. Sedangkan takhsis itu mewajibkan suatu cara dan menyalahkan cara yang lain.
.
PenTakhsisan dalam dzikir ini hanya bisa di lakukan oleh agama. Sementara penta’yinan itu di lakukan oleh manusia tampa merasa bahwa agamalah yang telah men-ta’yin untuknya secara khusus.
.
Begitulah perbedaan takhsis agamawi dengan takhsis bahasawi. Akan teTapi Bagaimana jika mereka bersikukuh tetap mengatakan bahwa ta’yin (kelakuan hamba) itu sama dengan takhsis (kelakuan agama) ? Pasalnya mereka itu mengharuskan akan harus bersih nya dzikir umum dari rencana dan rancanagn sama sekali dalam melaksanakan dzikir umum tersebut, semua harus terjadi begitu saja tampa ada niat sebelum nya terhadap kapan, dimana, berapa kali, dengan keadaan apa dzikir umum itu akan di lakukan, dst. Jadi misalnya ada orang yang berencana akan melakukan dzikir umum semisal nanti sore (memilih waktu sore) maka orang itu sudah dikatakan menentukan satu waktu dari banyak waktu (24 jam) yang bisa menerima pelaksanaan dzikir umum, dan penentuan (terhadap waktu sore) ini pastinya di sebut takhsis. Begitu pula mengundang banyak orang untuk melakukan dzikir umum, ini juga di sebut mentakhsis satu cara dari pada banyak cara dalam melakukan dzikir umum. Dan mentakhsis satu cara ini sekali lagi di katakan mentakhsis apa yang semestinya umum (bebas). Dan ini bid’ah. Oleh karena itu mereka mengatakan “dzikir berjemaah itu sesat”. Bahkan misalnya memilih satu macam dzikir umum semisal kalimat tauhid dalam satu kesempatan itu juga di sebut mentakhsis (menentukan) satu dzikir umum dari pada banyak dzikir umum yang ada dalam agama. Dan pentkhsisan terhadap satu dzikir dari pada banyak macam dzikir itu bid’ah. dengan kata lain Wahabi itu mengatakan bahwa dzikir umum tidak boleh diatur (di ta’yin) sendiri, tidak boleh ada rencana atau rancangan sama sekali dalam melaksanakan nya. Semua harus terjadi begitu saja tampa ada niat sebelum nya. Jika ada niat sebelum nya maka di sebut takhsis terhadap waktu, dan seterusnya. Dan Jika sampai mentahksis dzikir umum maka itu di anggap bid’ah (sesat).
.
maka agar kita selamat dari menentukan dzikir umum dan agar selamat dari bid’ah itu kita wajib melaksanakan dzikir umum Layaknya orang lagi terkejut terus mengeluarkan sembarang kata kata dzikir dari mulutnya tampa di sengaja. Dan itupun harus terjadi sekali. Jika sampai terulang ulang maka itu juga di sebut merutinkan perkara yang tiada dalil secara khusus untuk merutinkan nya. (penentuan kerutinan terhadap suatu perkara) Dan itu juga bid’ah (sesat).
.
Dalam hujjah mereka tentang dzikir umum yang di takhsis oleh si pelaku mereka terpaksa melegalkan suatu atsar sahabat yang menceritakan bahwa ada banyak orang munafik yang berasal dari timur di zaman sahabat dimana mereka sering melakukan dzikir sambil duduk membuat putaran di mesjid dengan satu nada dan dengan satu komando, (saya katakan terpaksa karena biasanya mereka tidak menerima atsar apalagi atsar itu tidak ada catatan nya dalam bukhori muslim, akan tetapi karna ini sesuai dengan tabiat mereka maka tidak apa apa dan sah sah saja walau hanya atsar yang agak gimana gitu)
.
Di lihat sepintas dari atsar yang mereka datangkan itu seakan akan dzikir berjemaah dengan satu nada dan dengan satu komando, itu adalah bid’ah, pasalnya dalam atsar tersebut dikatakan bahwa para sahabat menolak dan memungkiri amalan yang di lakukan kaum dari timur tersebut bahwasanya zaman kenabian itu masih dekat akan tetapi orang orang dari timur ini sudah berani melakukan dzikir dengan cara yang tiada tuntunan nya dari nabi saw. Yaitu dengan berjemaah dalam satu nada dan satu komando, dan bahkan jawaban mereka kaum timur itu “kami tidak berbuat kerusakan kami hanya melakukan kebaikan” mereka menjawab demikian ketika mereka di tegur keras dan tidak diakui sebagai golongan sahabat. Begitulah isi atsar itu. pembahasan seperti ini sangat marak di blog blognya aliran yang berfaham wahabisme. Karna yang di lakukan kaum di dalam atsar tersebut sama persis dengan amalan musuh musuh bebuyutan mereka di dunia ini termasuk di indonesia. Kita lihat bagaimana mereka membahas ini sebagus mungkin untuk di lihat betapa provesional dan sangat ilmiyah nya bahasan mereka itu mewakili rasa marah yang berapi api di dalam hati mereka. ๐Ÿ™‚
.
Tapi benarkah demikian?
.
Pertama, kalau kita ingat ingat hadit shohih yang juga di gunakan wahabi untuk menghujat kaum aswaja dalam masalah dzikir dengan suara keras yaitu hadits dimana para sahabat pada saat itu sedang dalam perjalanan menuju perang sambil berdzikir bersama serentak mengucap kalimat takbir bersama serentak mengucap kalimat tasbih akan tetapi dengan suara yang agak keras maklum ketika itu mereka menuju perang untuk meninggikan kalimat allah. Hal itu di tegur oleh nabi saw karna suara mereka keras dan memperingati mereka bahwa dzat yang mereka berdzikir kepadanya itu tidak tuli dan dia maha mendengar. Demikian lah Asbabul wurud dari hadits ini bahwa mereka mengeraskan suara dalam dzikir. Sehingga kekerasan suara mereka mendapat teguran dari nabi saw, (belum pasti apakah teguran ini teguran haram atau teguran tanzih karna dalam ilmu hadits ada banyak macam nahi yang derajat nahi nya tidak sampai pada keharoman). Akan tetapi yang perlu di ingat disni adalah bahwa nabi saw hanya menegur kekerasan suara mereka saja. Bukan (a) dzikirnya, bukan (b) pilihan /penentuan mereka sendiri pada kalimat takbir, dan (c) bukan pada keserentakan mereka dalam satu macam dzikir, dan bukan (d) dalam keserentakan mereka dalam memilih satu sebab dan bukan (e) dalam keserentakan mereka dalam satu suara dikir yang sama.
.
Kenapa nabi saw tidak menegur apa apa yang saya sebutkan dari A sampai E ini? Tentu saja karena tidak melanggar syariat. Andai saja melanggar syariat dan pelanggaran terhadap syariat di sebut kemungkaran, maka sudah pasti nabi saw pada saat itu juga akan segera menegur kemungkaran tersebut. Bhkan Nabi saw tidak akan rela menjadi bagian dari syuhada-uz zuur. (saksi penonton dosa dan kemungkaran) tapi tetserah kita hendak ikut atsar (yang agak gimana gitu) atau hendak ikut hadits ini (termasuk hadits adalah hadits fi’liy | tindakan | bagaimana tindakan nabi saw tehadap apa apa yang saya sebutkan dari A samapai E barusan yang ternyata tidak menegur nya . malah kalau wahabi biasa nya membanding bandingkan kata nabi saw [hadits] dengan kata sahabat [atsar] ๐Ÿ™‚ )))))).
.
Kedua, dalam bayak hadits shohih nabi saw sering menyaksikan gerombolan orang orang yang duduk bersama di dalam mesjid sambil berdzikir (halqotu ddikri) (orang orang yang memilih dan menentukan sendiri cara dzikir bersama | dzikir berjemaah | ketika nabi saw masuk mesjid. Akan tetapi nabi saw lebih memilih halqotul elmi jika dalam mesjid pada saat itu juga sedang ada halotul elmi (duduk membundar sambil ngaji ilmu agama). Hadits ini menerangkan apa yang lebih afdhol dari dua hal yang baik untuk di dahulukan. Bukan ingkar terhadap salah satunya. Bagaimana tindakan nabi saw terhadap kelakuan para sahabat yang memilih dan menentukan sendiri satu cara dari banyak cara dalam melaksanakan perintah dzikir umum tersebut? Ternyata nabi saw tidak menegur penentuan cara sendiri tersebut. Andai saja ini perkara mungkar, maka nabi saw akan segera menegur nya. Dan tidak akan membiarkan mereka pada maksiat. Karna nabi saw adalah makhluk yang paling tebal iman nya.
.
Ketiga, tidak ada nya larangan secara jelas dari nabi saw akan semua itu (penentuan sendiri sekedar memilih bukan mengharuskan layaknya pengharusan khusus dari agama). Bahwa tidak pernah ada riwayat bahwasanya nabi saw pernah bersabda “jangan kalian merencanakan | memilih atau menentukan sendiri cara mengerjakan dzikir umum itu, karna yang demikian itu termasuk pengkhususan terhadap perintah umum” . Nabi saw tidak pernah bersabda demikian. Bahkan wahabilah yang bersabda begitu ๐Ÿ™‚ padahal di sisi lain mereka juga meyakini bahwa apa apa yang di diamkan oleh syaro’ (syaro’ bersikap diam padahal menyaksikan nya) maka itu menunjukkan kebolehan apa apa yang di diamkan tersebut.
.
Dan begitu jelas dalam hadits hadits tersebut ketika para sahabat melakukan dzikir di keramaian sudah barang tentu masing masing dari mereka punya rencana sendiri terlebih dahulu terhadap suatu macam dzikir yang hendak di baca dari pada dzikir dzikir yang lain sebelum di suarakan | dilantunkan lewat lisan nya, begitu juga perencanaan memilih mesjid, dan memilih berkumpul, bahkan saat melangkah ke dalam mesjid atau bahkan semenjak berangkat dari rumah niatan itu sudah ada.
.
Keempat, Kadang kadang ibadah ibadah sunah termasuk dzikir umum ini berkaiatan dengan masalah nadar, dan ketika dzikir umum di nadarkan maka hukum nya wajib untuk di laksanakan karena nadar. Seperti mengatakan “jika allah menyembuhkan aku, maka aku akan baca surat yasin 7x ” maka yang bernadar seperti contoh ini wajib melaksanakan nya. Ini dinamakan nadar mujazat. Atau dalam nadar lajaaj seperti mengatakan “aku wajib baca yasin 4x” maka yang mengatakan seperti ini (menentukan satu surat dari pada dzikir umum yang lain sekaligus menentukan hitungan, sebab dan waktu) wajib melaksanakan nadarnya : perkataan nya tersebut. Ini adalah takhsis individu. andaikan saja penentuan tersebut dikatakan takhsis seperti takhsis yang di maksud dalam agama maka akan di anggap keliru dan tidal boleh di lakukan. Sementara hal ini malah agamalah yang mewajibkan nya. Kenapa? Karna yang demikian ini tidak di katakan takhsis walaupun mengeluarkan cara selain dari pada apa yang telah di nadarkan. Akan tetapi tetap pada taraf ta’yin. Karena disisi lain tidak ada pengakuan hal ini baku dari agama dan pada kesempatan lain bebas menentukan cara lain.
.
Yang sudah pasti dalam masalah nadar ini adalah leluasa nya seoarang hamba untuk menentukan satu macam ibadah dan satu macam cara untuk melaksanakan ibadah yang ia nadarkan tersebut. Andai saja seorang hamba tidak boleh menentukan satu macam ibadah dan satu macam cara dimana ibadah tersebut diperoleh dari perintah umum, maka dalam agama islam tidak akan ada istilah nadar nadaran.
.
Al hasil, jika perencanaan dari seseorang untuk dirinya sendiri terhadap suatu macam dzikir dan terhadap suatu macam cara itu tidak di larang, dan tidak termasuk dari perkara mungkar, maka perencanaan dari seseorang untuk orang lain terhadap suatu macam dzikir dan terhadap suatu macam cara juga tidaklah di larang. Dan tidaklah termasuk perkara mungkar. Karna kedua nya adalah sama. Inilah yang terjadi ketika dzikir itu pakai komando. Sebagaimana yang terjadi dalam isi hadits dzikir sahabat yang menuju perang di atas. Yaitu dikir bersama dalam Satu macam dzikir dan satu suara walaupun tidak jelas siapa yang memulai duluan (mengkomandoi).
.
Potongan hadits tersebut seperti ini (kalau tidak salah) “,,,,,,,,, ketika kami sampai pada jalanan mendaki, maka kami bertakbir, dan ketika kami sampai pada jalanan menurun, maka kami ,,,,,,,, ,,,,, “. Di faham dari nash tersebut “kami bertakbir” maka pilihan mereka terhadap suatu dzikir, suatu sebab, suatu tempat, suatu cara, adalah sama. Dan sekaligus di lantunkan bersama sama, dalam satu suara serentak. Layaknya seperti serentaknya melantunkan kata “amiin” dari para makmum di belakang imam pas setelah selesai bacaan fatihah dari imam dalam sholat. (aa-man-naa : maka kami membaca aamiin ‘secara serentak bersama sama’)
.
Kelima, kita ingat ingat juga satu hadits shohih yang juga marak pada blog blog wahabi dimana hadits tersebut termasuk pada hadits hadits yang di jadikan hujjah terhadap kaum aswaja dalam menolak bid’ah hasanah, ini hadits tersebut menceritakan bahwa da tiga orang sahabat dekat nabi saw yang di laporkan kepada nabi saw karna masing masing dari tiga sahabat ini berbeda beda dalam melaksanakan ibadah baca qur’an. Masing masing dari mereka menentukan pilihan dan cara cara yang berbeda. Mereka mensetting ibadah baca qur’an sesuai kehendak masing masing. Salah satu dari mereka ada yang membaca alqur’an sali silang antara surat dan ayat ayat alqur’an sesuai settingan nya sendiri dalam kesemua cara ibadah umum baca qur’an nya tersebut. Ada yang mencampur adukkan ayat alqur’an dengan dzikir lain (hanya dalam pembacaan saja bukan dalam periwayatan atau penulisan atau lain nya). Dan ada pula dengan cara yang lain. Artinya mereka membaca alqur’an tidak sesuai dengan urutan surat dan ayat alqur’an. Dihadapan nabi saw mereka masing masing di tanya kenapa mereka melakukan itu, maka mereka menjelaskan alasan alasan nya masing masing, dan semua alasan alasan dari mereka bertiga itu di terima oleh nabi saw. Andai saja semua penentuan dan pensettingan yang di pilih oleh masing masing tiga sahabat tersebut merupakan perkara mungkar, maka nabi saw tidak akan menerima bahkan menyetujui alasan alasan pribadi tersebut.
.
Jikalau dikatakan bahwa hal itu merupakan hadits taqriri, dimana kebenaran nya itu bukanlah muncul dari sisi sahabat sahaja akan tetapi muncul dari nabi saw ketika mentaqrir nya. Maka jawaban nya juga ada dalam hadits tersebut. Yaitu amalan yang di lakukan tiga sahabat itu tenggang waktunya jauh sebelum di laporkan pada nabi saw, maka kebenaran nya itu semenjak awal mereka melakukan nya. Bukan semenjak nabi saw mentaqrirnya. Kenapa demikian ? Karna nabi saw tidak akan pernah mentaqrir perkara mungkar. Dan perkara mungkar tidak akan jadi benar hanya dengan cara di laporkan kehadapan nabi saw. Adapun semenjak di taqrir itu adalah untuk menjadi hadits (syariat baku yang tidak boleh di ingkari) bukan untuk menjadi benar | di benarkan.
.
Keenam, bersambung dulu , insya allah kita lanjutkan pada kesempatan berikutnya, AMIIN.
.
Sampai disini dulu artikel kali ini , mohon koreksi dan mohon bimbingan, terima kasih wassalamu ‘alaykum wr wb.
.
Edisi kamis malam jum’at 7april 2016
.

Iklan