PERNAHKAH KITA SADAR …… ….. ….. …. ….. ???
.
Bismillaahi rrohmaani rrohiim . Alhamdu li llaah. assholaatu wa ssalaamu ‘alaa rosuuli llaah. Amma ba’dah.
.
Setiap muslim tahu, faham dan sangat familiar dengan keterangan hadits yang menjelaskan bahwa siapa saja dari orang islam yang memuliakan seseorang “karena harta nya” maka “iman” dalam hati nya akan berkurang seukur nilai rasa me”mulia”kan nya itu.
.
Untuk orang yang cinta duit, baik sholeh atau tholeh, ‘alim atau jahil, tua atau muda, tokoh atau bukan tokoh, berpangkat atau tidak, miskin atau kaya, ketika bertemu dengan “pemerintah” dimana pemerintah itu memang di selalu di harapkan “cairan nya” maka sangat di mungkinkan sekali seseorang yang cinta duit itu memuliakan “pemerintah” karna “cairan nya” tersebut (terbukti ketika pemerintah itu sudah pensiun dan tak berduit dan tak di harapkan lagi “cairan nya” pasti pemerintah itu tak di muliakan lagi oleh si cinta duit). Sangat sulit jaman sekarang ada orang yang tak cinta duit. sampai sampai mereka memelintir sebuah kata kata bijak menjadi “uang bukan segala nya, tapi segala nya butuh uang”
.
ketika itu terjadi, maka iman nya akan berkurang, ketika iman berkurang, maka kecintaan nya pada agama akan berkurang, daya membelanya pada agama akan berkurang pula. Di setiap sudut pandang, keseharian, agama lambat laun tidak lagi penting, agama akan pupus dari batin dan lahirnya, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk keluarga, tetangga, dan semua orang yang bergaul dengan nya sebab teman dan pergaulan itu dapat menentukan dan membentuk sifat dan kelakuan seseorang. (ta’limul muta’allim : nyata tampa ragu)
.
Ini amat membahayakan agama dimana agama akan terlupakan oleh tipisnya keimanan dan daya membela, tak sulit kita menemui kenyataan dimana agama di kucilkan dan di kesampingkan oleh muslim nya sendiri. Pemikiran liberal dan Aliran aliran sesat buatan musuh pun bermunculan.
.
Ketika orang kafir mulai berkuasa di negara islam, sudah pasti orang kafir itu akan di muliakan. Dan bagi orang yang cinta duit pasti orang yang cinta duit itu memuliakan “pemerinta” karena harta nya, (siapa sih yang gak cinta duit, )
.
nah disinilah orang kafir itu dapat untung melimpah dan bertubi tubi, apa sajakah itu?
.
pertama orang kafir itu menjadi kaya dengan pajak pajak dari orang islam, dia di mulyakan dan di gaji oleh orang islam, di beri fasilitas hidup layaknya raja, enak nyaman gratis bermerek , dll, sementara orang islamnya banyak yang di biarkan miskin dan melarat serta susah.
.
kedua orang kafir itu menjadi sponsor agama yang dia anut dan lindungan serta keamanan bagi teman teman nya dan orang yangsatu keyakinan dengan nya.
.
Ketiga, mengurangi iman orang islam dengan sendirinya tampa peperangan, tampa pemikiran, dan tampa apapun. Kecuali dengan di mulyakan karena “cairan nya”. Mereka menjadi raja di negri islam sementara orang islam di negri mereka di sakiti dengan tragis dan siksa bagai hewan.
.
Keempat, orang kafir itu dengan leluasa mengatur, menghakimi, membodohi, dan mensiasati orang islam dengan aman dan tampa kecurigaan apapun dengan aturan kepemerintahan atau non kepemerintahan,
.
kelima, orang kafir itu dengan leluasa korupsi di negri islam ( siapa sih pemerintah yang gak korupsi).
.
Keenam, orang kafir itu dapat berbicara seenaknya tentang islam dan muslim, muslim itu tak muderat, gak mau diperintah non muslim, pemerintah yang muslim punya budaya korupsi, dll yang dapat meng”hina”kan islam di hati orang islam nya sendiri.
.
Ketujuh, orang kafir itu dengan aman dan leluasa merebut dan menguasai daerah dimana orang islam turun temurun disana sebagai pemilik yang di sahkan pemerintah sebelumnya sebagai bantuan dan hak berwarga dan bernegara. ini terjadi di negri islam oleh raja kafir terhadap orang islam di negerinya sendiri. Tak hanya itu, orang kafir itu membagi bagikan daerah daerah (yang pastinya muslim) untuk teman teman nya yang sudah pasti satu keyakinan dengan nya. Amat menyedihkan . Amat mengenaskan. Amat memprihatinkan.
.
Kedelapan, dan masih banyak lagi yang belum kita tahu secara sadar akan bahaya yang semua itu terjadi karena cinta duit dan penguasa kafir. akan tetapi sedikit pengetahuan serta kesadaran yang mulai kita rasakan ini sudah sangat cukup membuat kita sedih, miris dan sakit hati .
.
Buat kita yang masih merasakan kebenaran islam dan hendak menyelamatkan anak cucu dari kemerosotan agama, kerusakan bahkan kekafiran serta masih berharap islam itu tegak sebagai agama di muka bumi ini, pasti tidak akan pernah mau memilih dan mengangkat orang kafir menjadi penguasa dimanapun, dalam konteks apapun, dan dengan alasan apapun.
.
Kalau anda kira ini fitnah atau anda mengira ini adu domba, ya terserah anda saja, sebab keselamatan agama yang anda mengaku cinta padanya, serta keselamatan anda dan anak cucu anda itu bukanlah tanggung jawab orang kafir.
.
Terima kasih : wassalam : Edisi 30.04.2016
.
Jika anda tidak keberatan, silakan anda bagikan ini demi perjuangan agama
.

apakah orang mati dapat mendoakan orang yang masih hidup ? bab 2 (dua)
.
Dalam artikel sebelumnya mengenai “apakah orang mati dapat mendoakan orang yang masih hidup ” sudah kita bahas bahwa kita punya dalil ayat dan hadits tentang ini , yaitu dalam surat yasin dan hadits kirim salam nya nabi ibrohim pada umat muhammad ketika isro’nya nabi saw.
.
Inti keterangan yang ada pada surat yasin itu adalah seseorang yang sudah mati karna di bunuh kaumnya di sebabkan membenarkan dan membela utusan allah beliau berharap agar kaumnya juga beriman seperti dirinya telah beriman agar kaumnya itu juga mendapatkan apa yang beliau dapatkan. Berarti Dalam ayat ini mengandung doa atau harapan baik (dari beliau di dalam kubur) bagi kaumnya (yang masih di dunia) agar apa yang beliau dapat juga di dapat oleh mereka
.
Inti dari salam nya nabi ibrohim yang dititipkan kepeda nabi muhammad saw untuk umat muhammad dimana nabi ibrohim sudah meninggal dunia ribuan tahun itu menandakan mungkin nya nabi ibrohim yang sudah meninggal ribuan tahun tersebut mendoakan umat muhammad yang masih ada di dunia bahkan masih belum terealisasi dan bahkan masih belum di lahirkan ribuan tahun setelah nya.
.
Kemudian pada bab dua ini saya berkehendak mengusulkan dua atau bisa di katakan tiga usulan mengenai mungkin nya orang mati mendoakan orang yang masih hidup. satu : ayat dari surat aliemron ayat 169 sampai ayat 170. dua : salam nya umat muhammad muhammad pada nabi muhammad. tiga : salam nya kita yang masih hidup ketika lewat dekat kuburan orang yang mati.
.
Pertama : ayat 169 – 170 aliimron.
.

ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله امواتا بل احيآء عند ربهم يرزقون . فرحين بما آتآهم الله من فضله . ويستبشرون بالذين لم يلحقوا بهم من خلفهم الا خوف عليهم ولا هم يحزنون

.
“dan jangan sekali kali kamu menyangka bahwa orang orang yang di bunuh di jalan allah itu adalah orang orang yang mati. Malah mereka hidup di sisi tuhan nya serta di beri rezeki. Mereka bergembira hati dengan apa yang di berikan allah pada mereka Dari kemurahan allah. Dan mereka bergembira hati terhadap orang orang yang di belakang mereka yang belum menyusul mereka | yang belum sampai ke tempat mereka. Bahwa tiada ketakutan bagi mereka (yang di bunuh di jalan allah) dan mereka tiada bersusah hati”
.
makna “ibtibsyar” (bergembira : memberi kabar gembira)disini adalah bergembira hati sambil mengharapkan orang lain juga bergembira hati dengan sebab dan akibat yang sama. Baik sama datnya atau sama maknanya. Semakna dengan ayat 61 asshoffat menurut “qiil” bahwasanya orang orang yang (bakal) masuk surga (yang enak dalam kubur karena amalnya) mengatakan :
..

لمثل هذا فليعمل العاملون

.
“seharus nya pada semisal ini (amal yang kami dapat pahala besar karena nya) orang orang yang beramal (yang masih mungkin beramal karna masih hidup) itu beramal”
.
asshoffat ayat 61. Ayat ini bermakna dorongan dan harapan. Dorongan pada kebaikan dan harapan agar mendapat pahala dari kebaikan itu. Dan ini (dorongan dan harapan) di lakukan atau timbul dari orang yang sudah mati untuk orang yang masih hidup.
.
Oleh karna yang di permasalahkan adalah “mungkinkah orang mati dapat mendoakan orang yang masih hidup? ” maka saya datangkan ayat ini. Kenapa? karna orang mati syahid (dalam perang yang di kisahkan dalam ayat ini) dan orang yang mati karna di aniaya kaumnya (yang di kisahkan dalam surat yasin) itu juga di katakan “orang mati” (ruhnya berpisah dari jasadnya dan berada dalam alam barzah). Bukan hanya yang mati dengan cara biasa saja seperti mati nya para ‘aamilun (asshoffat 61 menurut qiil). begitu pula dalam dua hadits yang kita bicarakan saat ini.
.
Kedua : salam nya nabi saw pada umat nya yang bersalam kepada nya. Dalam beberapa hadits nabi saw menjelaskan bahwa siapa saja dari umatnya yang ber”salam kepada beliau maka beliau akan menjawab nya dari dalam alam kubur . Jawab salam atau salam ini adalah doa. Dan doa ini di lakukan nabi saw di dalam alam kubur (beliau sudah wafat) untuk umatnya yang bersalam kepada beliau dari semua tempat dan waktu di alam dunia (umatnya masih hidup).
.
Kejelasan hadits hadits tentang ini kiranya sudah tidak perlu di perpanjang lagi serta keshohihan nya sudah tidak perlu di ragukan lagi.
.
Ketiga : salam nya kita pada ahli kubur di saat melewati kuburan para muslimiin. Kita di anjurkan oleh agama (hadits) untuk memanggil salam pada ahli kubur dari golongan orang orang islam ketika melewati kuburan mereka persis sebagaimana salam kita terhadap orang orang yang masih hidup. Bahwasanya mereka dapat menjawab | akan menjawab salam dari kita itu. Kita tahu Jawaban salam atau salam dari mereka (yang sudah mati pun) itu adalah doa padahal mereka sudah tidak bisa lagi berdoa untuk diri mereka sendiri. tapi untuk orang lain yang masih hidup ternyata mereka di mungkinkan oleh allah swt.
.
(catatan : yang belum sepekat dengan saya pada bahasan ketiga ini atau lain nya, silakan cari sendiri hadits hadits nya serta keterangan dan pemahan pemahaman nya menurut ‘ulama. Jika ternyata saya salah, saya mohon maaf dengan sangat. Dan mohon koreksinya. Serius)
.
Kemudian Jika mungkin ada seseorang yang bertanya Apakah karna mereka berdua itu nabi lalu allah mengizinkan mereka berdoa untuk orang lain yang masih hidup? Tidak. Sama sekali tidak, karna dalam dua ayat di atas juga di jelaskan bahwa mereka yang ber”istibsyar” pada umatnya yang masih hidup itu bukan “nabi” tetapi sebagian dari “umatnya nabi” saja. Dan dalam satu ayat ashoffat tersebut juga demikian (bukan hanya nabi tetapi juga para ‘amiluun).
.
Artikel ini di tulis adalah untuk menolak anggapan manusia jenis wahhabi dalam hal menolak tabarruk atau tawassul (dalam keyakinan aswaja para wali dapat mendoakan dari dalam kubur) mereka mengatakan bahwa “orang mati tidak bisa berbuat baik (berdoa) buat dirinya sendiri apalagi untuk orang lain”. dengan artikel ini kita akan tahu bahwa kiasan awlawi kepunyaan mereka itu adalah kiasan yang 1000,9% gagal 🙂 😀
.
Akhirnya saya capek juga, sudah waktunya mengakhiri acara “tulis menulis uneg uneg” pada kesempatan kali ini edisi selasa 26 04 2016 . Insya allah kita sambung pada kesempatan berikutnya dengan pembahasan yang sama. Mohon koreksi dan bimbingan dengan sangat. Sekian dan terima kasih. Was salaamu ‘alaykum wr wb.
.

Persamaan wahabi dan syiah bab 1 (satu)
. 🙂
(1) sama sama membenci orang orang yang di cintai oleh nabi saw. Syiah benci seluruh sahabat dan sebagian ahlul bait, wahabi benci seluruh ahlul bait dan menuduh seluruh sahabat sebagai ahli bid’ah yang masuk neraka.
. 🙂
(2) sama sama tidak mempercayai mayoritas ulama yang di percayai oleh nabi saw. Dari kalangan sahabat, tabien, dan tabiut taabien,
. 🙂
(3) sama sama keluar dari golongan assawdul a’dhzom (yaitu mayoritas muslim dunia segala jaman semenjak zaman sahabat) yang di percaya oleh nabi saw
. 🙂
(4) sama sama membenci kaum sunni di manapun mereka berada dan memerangi mereka, bukan memerangi kaum kuffar
. 🙂
(5) sama sama menjadi robot yang di rancang khusus oleh yahudi untuk membasmi kaum sunni dan islam dari dalam dalam berbagai bentuk taktik dan strerategi
. 🙂
(6) sama sama berkolaborasi dengan amerika untuk basmi islam dari dalam kenegaraan dan kekuasaan
. 🙂
(7) sama sama ingin menghapus sejarah sejarah islam dunia. Ribuan bukti yang tak pernah bisa terelakkan.
. 🙂

(8) sama sama lahir dari segerombolan orang yang menyempal dari assawadul a’dhzom. Bahkan guru guru besar nya pun
. 🙂
(9) syiah dengan mut’ahnya, wahabi dengan rodlo’ nya (ngemil susu wanita ajnabi agar menjadi mahrom) serta terong terongan
. 🙂
(10) sama sama menghalalkan darah dan harta kaum sunni , dan itu jihad mereka
. 🙂
(11) sama sama menghalalkan cara cara licik dan dusta dalam men-dakwah-i umat manusia. Seperti memalsukan dan mengurangi isi isi kitab ulama sunni
. 🙂
(12) sama sama menganggap sesat golongan sunni dan men-cap golongan sunni sebagai ahli neraka
. 🙂
(13) ketika syiah di nasehati maka mereka menuduh kamu wahabi, dan ketika wahabi di nasehati maka mereka menuduh kamu syiah
. 🙂
(14) sama sama menghalalkan bom bunuh diri dalam jihad ala mereka
. 🙂
(15) sama sama tidak percaya sejarah dan hikmah hikmah dari para ulama, sahabat, tabien, tabiut taabien karna bukan matan hadits dan karna bukan dari gilongan nya. Apabila tidak mendukung ideologi mereka. Apabila mendukung ideologi mereka maka dari siapapun mereke akan menerima nya. Mereka tidak mau berguru pada manusia. Mereka maunya berguru pada kitab langsung. Akhirnya mereka akan meragukan hadits hadits pula karna hadits dan ilmu hadits itu di dapat daru manusia yang tak maksum.
. 🙂
(16) sama sama menganggap hadits itu lemah jika tidak seperti apa yang mereka inginkan. Ini kerap terjadi antara mereka
. 🙂
(17) wahabi menganggap hadits dhoif itu adalah hadits palsu yang sama sekali tidak bisa di jadikan hujjah. pendapat atau anggapan seperti ini adalah menyempal dari pendapat dan anggapan seluruh para ulama hadits seluruh ulama sunni. Mereka begitu gampang meng”hadits”kan yang bukan hadits dan begitu gampang me-non”hadits”kan hadits. Syiah sama sekali tidak memakai hadits hadits dari para imam hadits sunni.
. 🙂
(18) sama sama malu untuk di ketahui siapa pelopor aliran yang mereka bangga banggakan itu, mereka berusaha dengan sekuat tenaga hendak mengkaburkan nama | orang pelopor aliran mereka masing masing dan tidak mau di sebut dengan nama “sebutan” aslinya.
. 🙂
(19) sama sama memiliki “mujaddid” dalam agama, dan mujaddid nya itu pastilah terdiri dari orang yang kontroversial yang nyelenih jalan nya dari ulama assawadul a’dhzom. Yang keluar dari assawadul a’dhzom pada zaman nabi saw yaitu golongan khowarij | khorijiyyah
. 🙂
(20) wahabi dengan revolusi tauhid nya ( menganggap dan menghukumi syirik terhadap ulama tiga kurun terbaik pecinta tabarruk) yang di pelopori oleh muhammad bin abdul wahhab. syiah dengan revolusi ali nya (kadang kadang mereka menganggap ali lebih baik daripada nabi saw) yang di pelopori oleh abdullah bin saba’
. 🙂
(0) bersambung ke artikel persamaan wahabi dengan syiah bab dua. Insyaa allaah.
. 🙂
.
Sampai disini dulu artikel kali ini mudah mudahan bermanfaat berbarokah, terima kasih was salaamu ‘alaykum wr wb
.
Edisi selasa 18 04 2016
.

MENENTUKAN SENDIRI HITUNGAN DZIKIR, SESATKAH? BAB 1
.
.
Diantara amalan aswaja yang di tuding sesat oleh wahabi adalah dzikir ala aswaja. Yakni dzkir yang kadang kadang kita memilih sendiri hitungan, waktu, nya. Kadang pula pakai komando, dan itu semua dalam dzikir yang memang tidak di tentukan caranya oleh agama.
.
Secara umum pelaksanaan dzikir itu ada dua macam :
.
1. Agama kadang kadang menentukan suatu macam dzikir pada suatu :
.
Hitungan
tempat
Waktu
Keadaan
Suara samar atau keras
Niat
Adab
Sendirian
Berjemaah
Serentak /satu suara
Diam
Berjalan
Berbaring
Sebab
Komando
Rutin
Orang khusus
Dan lain lain
.
Dalam dzikir yang di tentukan ini maka agamalah yang menentukan semua nya termasuk hitungan dan lain lain nya sebagaimana di sebutkan. Ini di sebut dzikir khusus. Yakni dalam cara pelaksanaan nya. Sehingga bisa di katakan keliru (menyalahi aturan sunnah yang sempuna) jika tidak sesuai dengan cara yang di anjurkan.
.
Oleh agama telah menentukan cara nya secara detail, dan tidak memebebaskan cara pengerjaan nya maka tentu saja pelaksana tidak boleh melakukan nya sesuai kehendaknya sendiri. Dan jika tidak di laksanakan sesuai aturan maka pelaksana tidak di katakan melakukan sunah secara khusus. Pahala akan kurang dan di sebut melakukan sunah dzikir umum.
.
2. Kadang pula agama tidak membatasi cara nya baik dalam :
.
Hitungan
tempat
Waktu
Keadaan
Suara samar atau keras
Niat
Adab
Sendirian
Berjemaah
Serentak /satu suara
Diam
Berjalan
Berbaring
Sebab
Komando
Rutin
Orang umum : siapa saja
Dan lain lain
.
Dalam dzikir bagian kedua ini agama tidak ikut menentukan cara pelaksanaan nya termasuk hitungan dan lain lain nya sebagaimana yang saya rinci tersebut. Ini di sebut dzikir umum (bebas) dalam cara melaksanakan nya. Sehingga tidak ada batasan batasan tertentu dan tidak ada aturan khusus yang harus di katakan melanggar aturan.
.
Oleh karena agama tidak menentukan suatu cara dan tidak mengikat seorang hamba pelaksana pada suatu cara dan bahkan membebaskan pelaksana itu untuk melakukan nya sesaui kehendak dan sikon nya, maka pelaksana boleh melakukan nya sesuai kehendak nya sendiri. Ia bebas dari terikat oleh suatu macam dzikir dan bebas dari terikat oleh suatu cara.
.
Termasuk dari pada hal hal yang di tuding sesat oleh wahabi dalam masalah dizkir ialah menentukan sendiri pada hitungan dzikir yang tidak ada ketentuan tersendri dalam hitungan nya dari agama.
.
Contoh menentukan cara sendiri dalam melaksanakan dzikir umum yaitu :
.
” Saya saat ini akan berdzikir
Dengan dzikir ini
7 hari (waktu)
100 hitungan (jumlah)
Dalam keadaan berdiri (keadaan)
Di kamarku ini (tempat)
Sendirian (keadaan)
Dengan rutin (keaadaan)
.
Tetapi di lain waktu Saya akan berdzikir
Dengan dzikir ini
1 hari (waktu)
10 hitungan (jumlah)
Dalam keadaan tidur (keadaan)
Di mushollaku ini (tempat)
berdua dengan istri (keadaan)
Dengan sekali saja (keaadaan)
.
Dan di lain waktu lagi saya merubah pilihan saya sesuai kehendak saya dalam waktu atau keadaan yang sama atau keadaan yang berbeda ”
.
Yang demikian Ini di sebut memilih pilihan sendiri. Dan menentukan pilihan sendiri. Dari banyak cara yang tiada batas nya. tetapi oleh wahabi penentuan seperti dalam contoh itu malah di anggap mentakhsis. Memang nya yang di katakan takhsis itu apa?
.
1 (takhsis agamawi | penentuan sekaligus pengharusan)
.
Yang di katakan takhsis menurut agama yaitu mengarahkan dalil umum pada pada satu kejadian tertentu saja. Walaupun dalil tersebut mengumumi banyak kejadian. Sehingga akan di katakan salah jika dalil tersebut di arahkan pada lain nya. Seperti firman allah swt “wahai orang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan” ini mengumumi semua orang yang memakai selimut akan tetapi maksudnya adalah satu orang yang berselimut saja yaitu nabi muhammad saw. Dan akan dikatakan salah jika diartikan pada yang lain nya. Dengan kata lain yaitu memilih satu diantara yang lain sekaligus akan salah jika memilih yang lain. Dan ini bersifat pasti.
.
Begitu juga dalam masalah dzikir. Dzikir khusus adalah dzikir yang caranya sudah di tentukan oleh agama. Walaupun ada cara lain yang bisa di lakukan untuk melaksanakan nya. Dan akan di anggap salah jika tidak memilih cara yang telah di atur agama tersebut.
.
2 (takhsis | ta’yin bahasawi | penentuan sebatas memilih tampa pengharusan)
.
Yang di sebut ta’yin yaitu memilih seuatu diantara sesuatu yang banyak (tampa batas) dan tidak apa apa jika memilih yang lain nya. Dengan kata lain memilih satu saja dari sesuatu yang banyak tampa ada keharusan untuk memilih salah satu. Dan tidak dia anggap salah jika memilih yang lain nya.
.
Begitu juga dalam masalah dzikir. Dzikir umum adalah dzikir yang caranya tidak di tentukan oleh agama. Cara pelaksanaan nya bebas. Dan tidak di anggap salah jika memilih atau tidak memilih salah satu di antara yang banyak tersebut. Dan ini bersifat bebas.
.
ta’yin ini tidak sampai pada derajat takhsis sebab tidak mengharuskan atau tidak menyalahkan cara cara tertentu. Sedangkan takhsis itu mewajibkan suatu cara dan menyalahkan cara yang lain.
.
PenTakhsisan dalam dzikir ini hanya bisa di lakukan oleh agama. Sementara penta’yinan itu di lakukan oleh manusia tampa merasa bahwa agamalah yang telah men-ta’yin untuknya secara khusus.
.
Begitulah perbedaan takhsis agamawi dengan takhsis bahasawi. Akan teTapi Bagaimana jika mereka bersikukuh tetap mengatakan bahwa ta’yin (kelakuan hamba) itu sama dengan takhsis (kelakuan agama) ? Pasalnya mereka itu mengharuskan akan harus bersih nya dzikir umum dari rencana dan rancanagn sama sekali dalam melaksanakan dzikir umum tersebut, semua harus terjadi begitu saja tampa ada niat sebelum nya terhadap kapan, dimana, berapa kali, dengan keadaan apa dzikir umum itu akan di lakukan, dst. Jadi misalnya ada orang yang berencana akan melakukan dzikir umum semisal nanti sore (memilih waktu sore) maka orang itu sudah dikatakan menentukan satu waktu dari banyak waktu (24 jam) yang bisa menerima pelaksanaan dzikir umum, dan penentuan (terhadap waktu sore) ini pastinya di sebut takhsis. Begitu pula mengundang banyak orang untuk melakukan dzikir umum, ini juga di sebut mentakhsis satu cara dari pada banyak cara dalam melakukan dzikir umum. Dan mentakhsis satu cara ini sekali lagi di katakan mentakhsis apa yang semestinya umum (bebas). Dan ini bid’ah. Oleh karena itu mereka mengatakan “dzikir berjemaah itu sesat”. Bahkan misalnya memilih satu macam dzikir umum semisal kalimat tauhid dalam satu kesempatan itu juga di sebut mentakhsis (menentukan) satu dzikir umum dari pada banyak dzikir umum yang ada dalam agama. Dan pentkhsisan terhadap satu dzikir dari pada banyak macam dzikir itu bid’ah. dengan kata lain Wahabi itu mengatakan bahwa dzikir umum tidak boleh diatur (di ta’yin) sendiri, tidak boleh ada rencana atau rancangan sama sekali dalam melaksanakan nya. Semua harus terjadi begitu saja tampa ada niat sebelum nya. Jika ada niat sebelum nya maka di sebut takhsis terhadap waktu, dan seterusnya. Dan Jika sampai mentahksis dzikir umum maka itu di anggap bid’ah (sesat).
.
maka agar kita selamat dari menentukan dzikir umum dan agar selamat dari bid’ah itu kita wajib melaksanakan dzikir umum Layaknya orang lagi terkejut terus mengeluarkan sembarang kata kata dzikir dari mulutnya tampa di sengaja. Dan itupun harus terjadi sekali. Jika sampai terulang ulang maka itu juga di sebut merutinkan perkara yang tiada dalil secara khusus untuk merutinkan nya. (penentuan kerutinan terhadap suatu perkara) Dan itu juga bid’ah (sesat). 🙂 🙂
.
Dalam hujjah mereka tentang dzikir umum yang di takhsis oleh si pelaku mereka terpaksa melegalkan suatu atsar sahabat yang menceritakan bahwa ada banyak orang munafik yang berasal dari timur di zaman sahabat dimana mereka sering melakukan dzikir sambil duduk membuat putaran di mesjid dengan satu nada dan dengan satu komando, (saya katakan terpaksa karena biasanya mereka tidak menerima atsar apalagi atsar itu tidak ada catatan nya dalam bukhori muslim, akan tetapi karna ini sesuai dengan tabiat mereka maka tidak apa apa dan sah sah saja walau hanya atsar yang agak gimana gitu 🙂 )
.
Di lihat sepintas dari atsar yang mereka datangkan itu seakan akan dzikir berjemaah dengan satu nada dan dengan satu komando, itu adalah bid’ah, pasalnya dalam atsar tersebut dikatakan bahwa para sahabat menolak dan memungkiri amalan yang di lakukan kaum dari timur tersebut bahwasanya zaman kenabian itu masih dekat akan tetapi orang orang dari timur ini sudah berani melakukan dzikir dengan cara yang tiada tuntunan nya dari nabi saw. Yaitu dengan berjemaah dalam satu nada dan satu komando, dan bahkan jawaban mereka kaum timur itu “kami tidak berbuat kerusakan kami hanya melakukan kebaikan” mereka menjawab demikian ketika mereka di tegur keras dan tidak diakui sebagai golongan sahabat. Begitulah isi atsar itu. pembahasan seperti ini sangat marak di blog blognya aliran yang berfaham wahabisme. Karna yang di lakukan kaum di dalam atsar tersebut sama persis dengan amalan musuh musuh bebuyutan mereka di dunia ini termasuk di indonesia. Kita lihat bagaimana mereka membahas ini sebagus mungkin untuk di lihat betapa provesional dan sangat ilmiyah nya bahasan mereka itu mewakili rasa marah yang berapi api di dalam hati mereka. 🙂
.
Tapi benarkah demikian?
.
Pertama, kalau kita ingat ingat hadit shohih yang juga di gunakan wahabi untuk menghujat kaum aswaja dalam masalah dzikir dengan suara keras yaitu hadits dimana para sahabat pada saat itu sedang dalam perjalanan menuju perang sambil berdzikir bersama serentak mengucap kalimat takbir bersama serentak mengucap kalimat tasbih akan tetapi dengan suara yang agak keras maklum ketika itu mereka menuju perang untuk meninggikan kalimat allah. Hal itu di tegur oleh nabi saw karna suara mereka keras dan memperingati mereka bahwa dzat yang mereka berdzikir kepadanya itu tidak tuli dan dia maha mendengar. Demikian lah Asbabul wurud dari hadits ini bahwa mereka mengeraskan suara dalam dzikir. Sehingga kekerasan suara mereka mendapat teguran dari nabi saw, (belum pasti apakah teguran ini teguran haram atau teguran tanzih karna dalam ilmu hadits ada banyak macam nahi yang derajat nahi nya tidak sampai pada keharoman). Akan tetapi yang perlu di ingat disni adalah bahwa nabi saw hanya menegur kekerasan suara mereka saja. Bukan (a) dzikirnya, bukan (b) pilihan /penentuan mereka sendiri pada kalimat takbir, dan (c) bukan pada keserentakan mereka dalam satu macam dzikir, dan bukan (d) dalam keserentakan mereka dalam memilih satu sebab dan bukan (e) dalam keserentakan mereka dalam satu suara dikir yang sama.
.
Kenapa nabi saw tidak menegur apa apa yang saya sebutkan dari A sampai E ini? Tentu saja karena tidak melanggar syariat. Andai saja melanggar syariat dan pelanggaran terhadap syariat di sebut kemungkaran, maka sudah pasti nabi saw pada saat itu juga akan segera menegur kemungkaran tersebut. Bhkan Nabi saw tidak akan rela menjadi bagian dari syuhada-uz zuur. (saksi penonton dosa dan kemungkaran) tapi terserah kita hendak ikut atsar (yang agak gimana gitu) atau hendak ikut hadits ini (termasuk hadits adalah hadits fi’liy | tindakan | bagaimana tindakan nabi saw tehadap apa apa yang saya sebutkan dari A samapai E barusan yang ternyata tidak menegur nya . malah kalau wahabi biasa nya membanding bandingkan kata nabi saw [hadits] dengan kata sahabat [atsar] 🙂 )))))) :).
.
Kedua, dalam bayak hadits shohih nabi saw sering menyaksikan gerombolan orang orang yang duduk bersama di dalam mesjid sambil berdzikir (halqotu ddikri) (orang orang yang memilih dan menentukan sendiri cara dzikir bersama | dzikir berjemaah | ketika nabi saw masuk mesjid. Akan tetapi nabi saw lebih memilih halqotul elmi jika dalam mesjid pada saat itu juga sedang ada halqotul elmi (duduk membundar sambil ngaji ilmu agama). Hadits ini menerangkan apa yang lebih afdhol dari dua hal yang baik untuk di dahulukan. Bukan ingkar terhadap salah satunya. Bagaimana tindakan nabi saw terhadap kelakuan para sahabat yang memilih dan menentukan sendiri satu cara dari banyak cara dalam melaksanakan perintah dzikir umum ? Ternyata nabi saw tidak menegur penentuan cara sendiri tersebut. Andai saja ini perkara mungkar, maka nabi saw akan segera menegur nya. Dan tidak akan membiarkan mereka pada maksiat. Karna nabi saw adalah makhluk yang paling tebal iman nya.
.
Ketiga, tidak ada nya larangan secara jelas dari nabi saw akan semua itu (penentuan sendiri sekedar memilih bukan mengharuskan layaknya pengharusan khusus dari agama). Bahwa tidak pernah ada riwayat bahwasanya nabi saw pernah bersabda “jangan kalian merencanakan | memilih atau menentukan sendiri cara mengerjakan dzikir umum itu, karna yang demikian itu termasuk pengkhususan terhadap perintah umum” . Nabi saw tidak pernah bersabda demikian. Bahkan wahabilah yang bersabda begitu 🙂 padahal di sisi lain mereka juga meyakini bahwa apa apa yang di diamkan oleh syaro’ (syaro’ bersikap diam padahal menyaksikan nya) maka itu menunjukkan kebolehan apa apa yang di diamkan tersebut.
.
Dan begitu jelas dalam hadits hadits tersebut ketika para sahabat melakukan dzikir di keramaian sudah barang tentu masing masing dari mereka punya rencana sendiri terlebih dahulu terhadap suatu macam dzikir yang hendak di baca dari pada dzikir dzikir yang lain sebelum di suarakan | dilantunkan lewat lisan nya, begitu juga perencanaan memilih mesjid, dan memilih berkumpul, bahkan saat melangkah ke dalam mesjid atau bahkan semenjak berangkat dari rumah niatan itu sudah ada.
.
Keempat, Kadang kadang ibadah ibadah sunah termasuk dzikir umum ini berkaiatan dengan masalah nadar, dan ketika dzikir umum di nadarkan maka hukum nya wajib untuk di laksanakan karena nadar. Seperti mengatakan “jika allah menyembuhkan aku, maka aku akan baca surat yasin 7x ” maka yang bernadar seperti contoh ini wajib melaksanakan nya. Ini dinamakan nadar mujazat. Atau dalam nadar lajaaj seperti mengatakan “aku wajib baca yasin 4x” maka yang mengatakan seperti ini (menentukan satu surat dari pada dzikir umum yang lain sekaligus menentukan hitungan, sebab dan waktu) wajib melaksanakan nadarnya : perkataan nya tersebut. Ini adalah takhsis individu. andaikan saja penentuan tersebut dikatakan takhsis seperti takhsis yang di maksud dalam agama maka akan di anggap keliru dan tidal boleh di lakukan. Sementara hal ini malah agamalah yang mewajibkan nya. Kenapa? Karna yang demikian ini tidak di katakan takhsis walaupun mengeluarkan cara selain dari pada apa yang telah di nadarkan. Akan tetapi tetap pada taraf ta’yin. Karena disisi lain tidak ada pengakuan hal ini baku dari agama dan pada kesempatan lain bebas menentukan cara lain.
.
Yang sudah pasti dalam masalah nadar ini adalah leluasa nya seoarang hamba untuk menentukan satu macam ibadah dan satu macam cara untuk melaksanakan ibadah yang ia nadarkan tersebut. Andai saja seorang hamba tidak boleh menentukan satu macam ibadah dan satu macam cara dimana ibadah tersebut diperoleh dari perintah umum, maka dalam agama islam tidak akan ada istilah nadar nadaran.
.
Al hasil, jika perencanaan dari seseorang untuk dirinya sendiri terhadap suatu macam dzikir dan terhadap suatu macam cara itu tidak di larang, dan tidak termasuk dari perkara mungkar, maka perencanaan dari seseorang untuk orang lain terhadap suatu macam dzikir dan terhadap suatu macam cara juga tidaklah di larang. Dan tidaklah termasuk perkara mungkar. Karna kedua nya adalah sama. Inilah yang terjadi ketika dzikir itu pakai komando. Sebagaimana yang terjadi dalam isi hadits dzikir sahabat yang menuju perang di atas. Yaitu dikir bersama dalam Satu macam dzikir dan satu suara walaupun tidak jelas siapa yang memulai duluan (mengkomandoi).
.
Potongan hadits tersebut seperti ini (kalau tidak salah) “,,,,,,,,, ketika kami sampai pada jalanan mendaki, maka kami bertakbir, dan ketika kami sampai pada jalanan menurun, maka kami ,,,,,,,, ,,,,, “. Di faham dari nash tersebut “kami bertakbir” maka pilihan mereka terhadap suatu dzikir, suatu sebab, suatu tempat, suatu cara, adalah sama. Dan sekaligus di lantunkan bersama sama, dalam satu suara serentak. Layaknya seperti serentaknya melantunkan kata “amiin” dari para makmum di belakang imam pas setelah selesai bacaan fatihah dari imam dalam sholat. (aa-man-naa : maka kami membaca aamiin ‘secara serentak bersama sama’)
.
Kelima, kita ingat ingat juga satu hadits shohih yang juga marak pada blog blog wahabi dimana hadits tersebut termasuk pada hadits hadits yang di jadikan hujjah terhadap kaum aswaja dalam menolak bid’ah hasanah, ini hadits tersebut menceritakan bahwa da tiga orang sahabat dekat nabi saw yang di laporkan kepada nabi saw karna masing masing dari tiga sahabat ini berbeda beda dalam melaksanakan ibadah baca qur’an. Masing masing dari mereka menentukan pilihan dan cara cara yang berbeda. Mereka mensetting ibadah baca qur’an sesuai kehendak masing masing. Salah satu dari mereka ada yang membaca alqur’an sali silang antara surat dan ayat ayat alqur’an sesuai settingan nya sendiri dalam kesemua cara ibadah umum baca qur’an nya tersebut. Ada yang mencampur adukkan ayat alqur’an dengan dzikir lain (hanya dalam pembacaan saja bukan dalam periwayatan atau penulisan atau lain nya). Dan ada pula dengan cara yang lain. Artinya mereka membaca alqur’an tidak sesuai dengan urutan surat dan ayat alqur’an. Dihadapan nabi saw mereka masing masing di tanya kenapa mereka melakukan itu, maka mereka menjelaskan alasan alasan nya masing masing, dan semua alasan alasan dari mereka bertiga itu di terima oleh nabi saw. Andai saja semua penentuan dan pensettingan yang di pilih oleh masing masing tiga sahabat tersebut merupakan perkara mungkar, maka nabi saw tidak akan menerima bahkan menyetujui alasan alasan pribadi tersebut.
.
Jikalau dikatakan bahwa hal itu merupakan hadits taqriri, dimana kebenaran nya itu bukanlah muncul dari sisi sahabat sahaja akan tetapi muncul dari nabi saw ketika mentaqrir nya. Maka jawaban nya juga ada dalam hadits tersebut. Yaitu amalan yang di lakukan tiga sahabat itu tenggang waktunya jauh sebelum di laporkan pada nabi saw, maka kebenaran nya itu semenjak awal mereka melakukan nya. Bukan semenjak nabi saw mentaqrirnya. Kenapa demikian ? Karna nabi saw tidak akan pernah mentaqrir perkara mungkar. Dan perkara mungkar tidak akan jadi benar hanya dengan cara di laporkan kehadapan nabi saw. Adapun semenjak di taqrir itu adalah untuk menjadi hadits (syariat baku yang tidak boleh di ingkari) bukan untuk menjadi benar | di benarkan.
.
Keenam, bersambung dulu , insya allah kita lanjutkan pada kesempatan berikutnya, AMIIN.
.
Sampai disini dulu artikel kali ini , mohon koreksi dan mohon bimbingan, terima kasih wassalamu ‘alaykum wr wb.
.
Edisi kamis malam jum’at 7april 2016
.
🙂
🙂

CLOTEHAN WAHABI
.
.
Banyak sekali cloteh cloteh wahabi kepada kita aswaja (mayoritas muslim dunia segala zaman semenjak zaman nabi dan sahabat ) diantara cloteh wahabi yang selalu kita dengar itu yaitu :
.
.
“ibadahnya orang aswaja bernyanyi kayak orang nasrani”
.
“ibadahnya orang aswaja pakai musik”
.
“ibadahnya orang aswaja geleng geleng kepala”
.
“ibadahnya orang aswaja teriak teriak pake spiker mesjid”
.
“di mesjidnya orang aswaja ada beduknya”
.
“dikiran nya orang aswaja pakai komando”
.
“ibadahnya orang aswaja pakai nawaytu dan usholli”
.
dan seterus nya.
.
.
Mungkin mereka menganggap semua apa apa yang di kaitkan terhadap agama tampa dalil langsung tentang anjuran sekaligus cara pelaksanaan nya secara detail itu adalah bid’ah dan itu sesat dan tidak ada kebenaran setelah kebenaran (fama ba’da l haqqi illa ddholaal) oleh karena itu mereka selalu saja merengek rengek minta dalil hadits langsung tentang semua apa yang kita lakukan walaupun apa apa yang kita lakukan itu sudah termasuk dalam keumuman dalil yang masyhur. Mungkin di dada mereka sudah terbubuhi omongan ustadz ustadz mereka yang selalu bilang “agama aswaja agama nenek moyang” (ma wajadna ‘alayhi abaa-anaa : cuma asal ikut nenek moyang saja tampa tahu hukum hukumnya) Yach begitulah kita dalam pandangan mereka.
.
.
Oke kita lanjutkan pada apa yang hendak di bahas dalam tulisan ini yaitu untuk merefresh ingatan kita tentang hukum dari apa yang kita lakukan. Kita dahulukan pembahasan tentang musik dan syair dan yang lain nya ngikut. Kita setting pada dialog tanya jawab agar lebih ringan.
.
.
(1) bagaimanakah musik dan bagaimana hukum nya?
.
musik adalah a’mal duniawai (perkara dunia). Musik ini hukum asalnya ada yang halal di mainkan dan ada yang haram. Diantara yang halal itu seperti rebana. Dan diantara yang haram itu seperti seruling. (sebaiknya kita pelajari ilmu agama /dalil dalil tentang musik ini sebelum bergegas mengomentari nya tampa ilmu)
.
(2) bagaimanakah syair dan bagaimana hukum nya?
.
Syair adalah a’mal duniawi, ada yang halal ada pula yang haram tergantung pesan pesan yang ada di dalam nya layak nya kata kata atau pembicaraan biasa. (Sebaiknya pula kita pelajari dalil dalil agama tentang syair ini sebelum lidah menjadi gatal untuk bercloteh)
.
(3) kenapa syair dan musik di bilang perkara dunia?
.
Jawaban nya karena agama tidak ikut campur dan tidak ikut mengatur terhadap keduanya. Baik dalam cara membuat keduanya bagus atau yang lain lain. Agama hanya memberi batasan batasan agar keduanya tidak sampai pada kemungkaran. Layaknya ahwal duniawi yang lain.

(4) apa hubungan nya dengan clotehan mereka?
.
Karna apa apa yang mereka clotehin itu termasuk perkara dunia, dan termasuk pada perkara dunia yang boleh, Maka akal fikiran dan pemahaman kita, kita langsung tujukan pada hadits hadits di bawah ini (kalau tidak salah lafadl nya seperti di bawah ini)

انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى

“innama l a’malu bi nniyati wa innama likulli mri-in ma nawa :
.
sahnya amal itu tergantung niatnya / di nilai baik atau buruknya amal itu tergantung niatnya, dan bagi setiap orang itu apa apa yang ia niatkan (nilai dan balasan nya)” (al hadits)
.
keshohihan hadits ini sudah tidak di ragukan lagi oleh setiap golongan. Kemudian juga hadits di bawah ini (kalau tidak salah lafadl nya seperti di bawah ini) :

كم من عمل الدنيا يصير بحسن النية من اعمال الآخرة وكم من عمل الآخرة يصير من اعمال الدنيا بسوء النية ‏

“kam min a’maali ddun-ya yashiru bi husni nniyati min a’maali l-akhiroti , wa kam min ‘amali l-akhiroti yashiru min a’maali ddun-ya bi su-i nniyyati :
.
banyak pekerjaan pekerjaan duniawai yang menjadi amal akhirat karena baiknya niat, dan banyak pula pekerjaan akhirat yang menjadi amal duniawi dengan buruk nya niat” (al hadits)
.
Alhasil , Ketika a’mal dunia itu halal seperti sebagian musik dan sebagian syair , maka boleh di lakukan. dan Ketika boleh di lakukan maka boleh di niati dengan niatan yang baik /ibadah apabila di dalam nya terdapat dukungan atau bisa menjadi dukungan / alat terhadap kebaikan.
.
(5) siapa yang merintis dan bagaimna cara merintis nya ?
.
sebagai makhluk sosial dengan berbagai macam karakter dan kesukaan, maka – di setiap tempat dan pada setiap zaman, jalan untuk menuju atau menggiring manusia pada kebaikan melalui jalan yang “boleh” itu sekaligus menjadikan mereka lupa untuk melakukan perkara mungkar – itu akan berbeda bagi suatu kaum sesuai karakter , sikon dan tujuan nya. Sehingga melahirkan berbagai macam jalan yang halal untuk itu.
.
(6) halalkah kita merintis perkara duniawi sesuia karakter , sikon dan tujuan?.
.
Jawaban nya adalah hadits ini (kalau tidak salah lafadl nya seperti di bawah ini) :

أنتم أعلم بأمر دنياكم

“antum a’lamu bi amri dun-yakum : kalian lebih tau pada urusan duniawa kalian” (al hadits)
.
.
(7) halalkah kita meniati nya dengan niatan baik dan ibadah?
.
Jawaban nya adalah haidits di atas ” banyak perkara duniawi yang menjadi amal akhirat karena baiknya niat” yang pasti jika jalan dan isi serta tujuan nya tidak melanggar agama dan bahkan memang mendukung agama.
.
Alhasil , Jika semua nya sudah sesuai dengan dalil dalil agama dan tidak bentrokan dengan dalil dalil agama yang lain nya, maka begitulah hukum dan kebenaran nya.
.
(8) apa sajakah tujuan baik dari semua itu?
.
Tujuan nya agar mereka tetap mengingat agama dalam hal apapun termasuk dalam kegemaran nya. Begutu pula mereka akan terbiasa dengan hal hal yang berbau agama dalam hal apapun. Termasuk anak anak yang masih awam.
.
(9) apakah ini bid’ah ?
.
Tentu saja bid’ah, tapi sunnah. Di bilang bid’ah karena agama tidak menentukan caranya tapi kitalah yang merintisnya, di bilang sunnah (tidak wajib) karena apa yang kita rintis itu halal dan sekaligus sesuai dengan keinginan agama itu sendiri.
.
(10) apakah wahabi memahami ini ?
.
Hehehe hehehe hehehe hehehe hehehe hehehe hehehe hehehe hehehe
.
Tinggal beberapa pertanyaan yang mungkin harus di perjelas kembali yaitu :
.
(11) halalkah memasukkan pesan pesan kebaikan agama ke dalam syair ?
.
Sejak kapan yach ini gak boleh, padahal ada banyak para sahabat semasa nabi saw yang terkenal sebagai penyair ulung.
.
(12) halalkah menjadikan musik sebagai dukungan untuk agama ?
.
Belum ada cerita nya menggabungkan sesuatu yang halal di gabungkan dengan yang baik itu tidak boleh. Selagi tidak merusak dan tidak bentrok dengan aturan agama yang lain. Oleh karena itu hal ini harus di barengi dengan banyak pertimbangan. Agar tidak bentrok atau merusak aturan agama yang lain.
.
(13) apakah ini semua bisa menjadikan syubhat bahwa semua itu datang secara langsung dari agama secara khusus /ada haditsnya langsung?
.
Yang punya kekwatiran seperti ini ya cuma orang orang yang menganggap setiap pekerjaan duniawi yang agak berbau agama itu sesat. Karna mereka menganggap orang orang aswaja itu bodoh dan tampa pengawasan. Padahal mereka sendiri belajarnya cuma daurohan.
.
sampai disini dulu corat coret kali ini saya akhiri. Mohon koreksi dan mohon bimbingan nya. Terima kasih. Wassalaamu ‘alaykum wr.wb.
.

Puisiku untuk wahabi,,,
,
,
wahabi,,, oh,,, wahabi,,,
¤
Betapa dustanya kalian,,,
Betapa jahatnya kalian,,,
Betapa liciknya kalian,,,
Betapa busuknya tipu daya kalian,,,
Betapa menjijikkannya kalian,,,
Betapa rusaknya adab kalian,,,
Betapa besar nya fitnah kalian,,,
¤
¤
Kita lihat bagaimana mereka menududuh assawdul a’dhzom (mayoritas) para sahabat dimasa nabi saw sebagai ahli bid’ah, bahkan khulafaur roosyidin dan ratusan sahabat yang di jamin masuk surga oleh nabi saw secara langsung, oleh karena melakukan dan meyakini ada nya bid’ah hasanah dalam agama (prosesi hadits taqriri)
¤
¤
Kita lihat bagaimana mereka menududuh assawdul a’dhzom (mayoritas) para sahabat setelah nabi saw sebagai ahli bid’ah, bahkan khulafaur roosyidin dan ratusan sahabat yang di jamin masuk surga oleh nabi saw secara langsung, oleh karena melakukan dan meyakini ada nya bid’ah hasanah dalam agama, diantara nya adalah bermadzhab dan berijmak dll
¤
¤
Kita tahu Dizaman para sahabat yang berjumlah ratusan ribu itu dalam kesepakatan tampa perundingan mereka kesemya nya membuat dan memilih imamah penganutan dalam amaliyat agama dan keilmuan nya kepada orang orang di yakini dan betul betul paling sholeh dan paling ‘aalim di antara mereka untuk mengajar dan berfatwa. Seperti kepada khulafaur rosyidin dan lain lain nya.
¤
¤
Kita lihat bagaimana mereka menududuh assawdul a’dhzom (mayoritas) para taabi’en yang berkiblat pada para sahabat itu sebagai ahli bid’ah, oleh karena melakukan dan meyakini ada nya bid’ah hasanah dalam agama diantara nya adalah bermadzhab dan berijmak dll
¤
¤
Kita tahu Dizaman para tabi’en itu dalam kesepakatan tampa perundingan mereka kesemua nya membuat dan memilih imamah penganutan dalam amaliyat agama dan keilmuan nya kepada orang orang di yakini dan betul betul paling sholeh dan paling ‘aalim di antara mereka untuk mengajar dan berfatwa, seperti kepada imam malik, dll
¤
¤
Kita lihat bagaimana mereka menududuh assawdul a’dhzom (mayoritas) para tabi’ut taabi’en yang berkiblat pada para tabi’en itu sebagai ahli bid’ah, oleh karena melakukan dan meyakini ada nya bid’ah hasanah dalam agama diantara nya adalah bermadzhab dan berijmak dll
¤
¤
Kita tahu Dizaman para tabiu’t tabi’en itu dalam kesepakatan tampa perundingan mereka kesemua nya membuat dan memilih imamah penganutan dalam amaliyat agama dan keilmuan nya kepada orang orang di yakini dan betul betul paling sholeh dan paling ‘aalim di antara mereka untuk mengajar dan berfatwa, seperti kepada imam syafi’e dll
¤
¤
Kita lihat bagaimana mereka menududuh assawdul a’dhzom (mayoritas) para ‘ulama yang berkiblat pada para tabi’ut tabi’en itu sebagai ahli bid’ah, oleh karena melakukan dan meyakini ada nya bid’ah hasanah dalam agama diantara nya adalah bermadzhab dan berijmak dll
¤
¤
Kita tahu Dizaman para ‘ulama setelah zaman tabi’ut tabi’en itu dalam kesepakatan tampa perundingan mereka kesemua nya membuat dan memilih imamah penganutan dalam amaliyat agama dan keilmuan nya kepada orang orang di yakini dan betul betul paling sholeh dan paling ‘aalim di antara mereka untuk mengajar dan berfatwa, seperti kepada imam nawawi dll
¤
¤
Artinya mereka menuduh seluruh komponen assawadul a’dhzom (ikuti moyoritas : hadits shoheh red) samenjak zaman sahabat sampai sekarang sabagai ahli bid’ah dan akan masuk neraka. Sampai mereka menuduh dan menghujat seluruh para sahabat dan assawadul a’dhzom setelah nya dengan hadits :
¤
¤
“oh tuhan, mereka sahabat sahabatku , aku kenal mereka semasa di dunia tapi kenapa engkau menghempasnya ke arah kiri? allah menjawab “kamu tidak tahu apa yang mereka lakukan setelahmu wahai muhammad, mereka telah berbuat bid’ah”
¤
¤
Tampa mengingat mereka para sahabat itu telah di jamin masuk surga oleh nabi saw, dan nabi saw tidak akan pernah dusta, dan tampa mengingat bahwa assawadul a’dhzom yang saya katakan dari atas itu di jamin kebenaran nya oleh nabi saw dan nabi saw tidak akan pernah dusta, tapi mereka mendustakan kedua macam hadits ini.
¤
¤
wahabi,,, oh,,, wahabi,,,
¤
Kemudian kalian menuduh kami dan beliau beliau assawadul a’dhzom seluruhnya
sebagai ahli syirik,
sebagai pengikut yahudi,
sebagai syiah indonesia,
sebagai ahli sihir,
sebagai penganut agama nenek moyang tak ubahnya quraisy makkah jahiliyah dan malah menganggap mereka lebih bertauhid dari pada kami,
Kemudian menuduh kami dan mereka asawadul a’dhzom sebagai penyembah kuburan, dan menyerupakan kami dengan umat nabi sholeh,,
sebagai perusak sunnah, dan seterus nya,,,
¤
¤
Betapa beracun nya mulut kalian,,,
Betapa rusaknya lidah kalian,,,
Betapa najisnya i’tikad kalian,,,
¤
¤
Tidak cukup hanya itu, kalian telah menghancurkan metos metos islam, syiar syiar islam yang di mulyakan, merusak, menghina, dan menjual peninggalan peninggalan nabi saw dan dan ahlul bait para sahabat,,, mengusir dan membunuh muslim dan ulama ahlus sunnah waljamaah, menghancurkan makam makam nya,,, kalian dengan senang hati mencabik cabik islam dan muslimiin dan menganggap itu semua sebagai jihad dan kebenaran,,,
¤
¤
Betapa najisnya i’tikad kalian,,,
Betapa rusaknya agama kalian,,,
Betapa rusaknya adab kalian,,,
Betapa matinya hati kalian,,,
Betapa bejatnya tabiat kalian,,,
¤
¤
Kalian mengandalkan jenggot, gamis, serban, apa kalian kira kami tidak tahu bahwa abu jahal, abu lahab itu juga berjenggot, menenakan gamis, sorban, asli orang mekkah, pakar dan fasih berbahasa arab, dan bahkan dia berdua adalah paman nabi muhammad saw,,,
¤
¤
Wahabi ,,,, oh,,, wahabi,,,,,
¤
¤
Kalian axis dan percaya diri dengan motto “kembali pada qur’an dan sunah”,,, apa kalian kira kami tidak tahu kebusukan niat dan rencana kalian di balik semua itu,,, apa kalian kira kami sebodoh itu,,, ? Tidak ,,, tidak,,, tidak,,,
¤
¤
wahbabi,,, oh,,, wahbabi,,,
¤
¤

siapa yang mentahlilkan nabi muhammad saw?
.
Bismi llaahi rrohmaani rrohiim wal hamdu li llaahi robbi l ‘aalamiin wa sholaatu wa ssalaamu ‘alaa rosuli llaah, amma ba’dah, saya awali artikel yang agak berantakan ini dengan menyebut nama allah dan syukur pada allah serta sholawat salam pada rosulullah saw dan untuk para keluarga nya dan untuk para sahabat nya.
.
Sebelum sampai pada jawaban pertanyaan ini secara langsung mari kita ketahui dulu beberapa hal di bawah ini,
.
Pertama : tujuan tradisi yang di namai dengan tahlilan tidak lain adalah hendak mendoakan orang yang sudah meninggal yang di lakukan dengan serentak dan bersama sama, kenapa di lakukan dengan serentak ? Ada tiga alasan kenapa tahlilan di lakukan dengan serentak, pertama adalah menjawab perintah agama agar mendoakan orang yang sudah mati. kedua, agar tidak ada yang ketinggalan dalam melaksanakan tuntutan mendoakan orang mati tersebut. Ketiga, agar cepat terkabul oleh karena doa berjemaah itu lebih yaqin akan di ijabah, (tidak berkumpul suatu kaum dalam dzikir kecuali karena allah {ma ajlasahum illa dzaka} maka mereka akan di selimuti rohmat allah = kecuali karna menjalankan perintah allah = tuntutan mendoakan orang mati maka, ,,, ,,, )
.
Kedua : tahlilan adalah istilah untuk kegiatan yang di dalam nya terdapat banyak perkara yang merupakan tuntutan agama. Melakukan banyak tuntutan agama dalam sekali kesempatan itu tidak di larang selagi bisa dan tidak merusak syariat lain nya.
.
Ketiga : membiasakan kaum pada hal hal yang baik, karena sesuatu yang baik jika tidak di biasakan akan segera terlupakan, membiasakan diri pada kebaikan ini juga tuntutan agama,
.
Keempat : berkorban , allah swt menyatakan dalam alqur’an bahwa manusia yang tidak menginfakkan apa apa dari harta yang di cintainya, maka ia tidak akan mendapat kebaikan yang sepenuhnya, padahal jika dalam acara perkawinan dll mereka itu sanggup berkorban, kenapa kalau untuk tinggi nya derajat orang tua di sorga dengan bersedekah yang banyak lalu mereka tidak mampu?
.
nah, berkorban dan mengutamakan yang lebih penting ini juga perintah agama.
.
Kelima : tradisi tahlilan adalah juga menjalankan perintah tawasow bil haqq, (pesan agama yang baik) pesan yang baik melalui tradisi dan ini amat menjanjikan, sehingga siapapun akan tau bahwa mendoakan orang mati dan mensedekahi mereka adalah tuntutan agama islam sekalipun tidak belajar lewat pengajian atau sekolah.
.
Keenam : mengesankan bahwa perintah mendoakan mayit ini adalah perintah agama, dan perintah agama itu adalah perkara yang besar sekalipun tidak wajib yang terus menerus seperti sholat, lima waktu , dengan cara ini, maka orang orang akan selalu menganggap nya besar turun temurun. Menganggap perintah agama adalah sesuatu yang besar adalah tuntutan agama pula apalagi dalam hal yang begitu amat gampang di lupakan seperti syariat doa untuk mayit ini. Karna sama sekali keutamaan dan balasan nya amat tidak terlihat oleh keinginan nafsu Manusiawi .
.
Ketujuh : kenapa di biasakan 7 hari ? dan 40 hari ? Karena adanya hadits / atsar dari thowus.
.
Seperti apa hadits thowus itu ? Lihat keterangan dan penjelasan nya di sini http://www.aswj-rg.com/2013/10/jawaban-atas-prasangka-dlaif-atsar-thawus-dan-fatwa-para-ulama-terhadap-ziarah-kematian.html. Kenapa hadits ini tidak terkenal ? Kita tau bahwa Ketidak terkenalan suatu kebenaran bukanlah bukti kelemahan ataupun kebatialan nya. hadits thowus yang tsiqoh dan menjadi imam tabien tersebut bersaksi begitulah kegiatan ulama salaf sampai sekarang (sampai di zaman thowus masih hidup) yang artinya itu adalah kegiatan para sahabat, sementara kegiatan para sahabat adalah saksi dari pada kegiatan rosul saw. Oleh karna itu ulama menyebutnya berada pada tingkat hadits marfu’ dalam kesimpulan tiga riwayat hadits Itu . Jadi acara doa untuk mayit itu bukan hanya ada pada zaman islam jawa tapi sudah seribu tahun sebelum islam datang ke jawa.
.
Jangan mengira yang 7 hari ini adalah pengkhususan terhadap 7 hari sehingga jika berdoa untuk mayit sebelum atau setelah nya adalah salah, sama sekali tidak kebiasaan ini amat tidak mengesankan ini, tapi kenapa sahabat lebih memilih (sebagai pilihan bukan penghususan) yang 7 hari itu, maka di jawab dalam atsar marfu’ itu bahwa dalam 7 hari bagi orang mukmin atau 40 hari bagi orang fasik itu di tanyakan / di uji oleh malaikat.
.
Kemudian ada seseorang yang isykal dari umat wahabi, bahwa atsar marfu’ ini melahirkan i’tikad baru tentang akan di uji nya mayat dalam 7 hari atau 40 hari padahal dalam hadits hadits tidak menyebutkan berapa hari waktu ujian kepada mayit itu bahkan hadits hadits itu mengesankan bahwa ujian hanya terjadi sekali saja yaitu pada saat sebentar setelah panguburan. dan seharus nya menurut para imam – i’tikad itu hanya di peroleh dari hadits hadits shohih bukan yang lain. Maka jawaban nya adalah kita tidak boleh lupa pada status atsar itu yang derajat nya sampai pada hukum hadits marfu’. silakan kita lihat penjelasan nya di situs ini http://www.aswj-rg.com/2013/10/jawaban-atas-prasangka-dlaif-atsar-thawus-dan-fatwa-para-ulama-terhadap-ziarah-kematian.html
.
Alhasil kita seleruh muslim ahlus sunnah waljamaah pecinta setia tahlilan sedari jaman sahabat sudah memenuhi tuntutan kaidah yang di lahirkan oleh umat wahabi ratusan tahun kemudian, yaitu semua itu sudah di dahului ulaa salaf dalam melaksanakan nya. Bahwa wahabi mengatakan : andai itu baik maka para sahabat sudah pasti mendahului kita melakukan nya.
.
Kedelapan : apakah pantas ini di lakukan pada nabi ? Oleh karena tahlilan ini identik dengan memohonkan ampunan kepada tuhan untuk mayit, maka jawaban nya “Tidak pantas sama sekali”, karena nabi saw tidak punya dosa ataupun kesalahan yang harus sahabat mintakan ampunan kepada tuhan untuk beliau saw. Nabi saw tidak butuh syafaat dari umat nya untuk masalah pribadi nya, apa kata dunia jika kita membuat kerumunan memohonkan ampunan dosa untuk nabi muhammad saw yang maksum itu ? !!!!!!! Jangan sampai kita memperlihatkan atau memberi kefahaman kepada manusia bahwa nabi saw punya dosa, ini sangat keliru sekali bagi keyakinan kita sendiri ataupun bagi anggapan orang yang beda agama.
.
Apalagi pada waktu kewafatan manusia teragung sedunia akhirat itu umat menjadi mabuk dalam kesedihan yang amat mendalam. Mereka sibuk dalam kegentingan menghadang dan mengantisipasi banjirnya keburukan keburukan musuh musuh yang kuat, para murtaddin dan orang orang munafik yang bergabung ditengah tengah kaum muslim dimana basis islam saat itu cuma mekkah dan madinah. sedang banjir nya keburukan keburukan itu bisa saja mengancam setiap saat.
.
jadi siapakah yang mentahlilkan nabi saw ketika nabi saw wafat dan siapa yang menjadi komando tahlilan nya?
.
Jawaban nya (bagi saya pribadi) adalah tidak akan pernah ada orang, baik dari kalangan sahabat atau setelah nya, yang merasa pantas untuk memohonkan ampun atas dosa nya nabi saw yang tak berdosa. Dan tidak ada orang yang merasa pantas untuk men-syafaati nabi muhammad saw di hadapan tuhan yang amat meng-istimewakan nya yaitu allah swt. dan pula tidak akan pernah ada yang merasa pantas untuk memohonkan “tatsbit” selema 7 hari itu untuk beliau yang langsung menjadi penghuni sorga semenjak ruhnya keluar dari jasadnya dimana tak perlu lagi mendapat ujian dari malaikat penjaga kubur.
.
Sampai di sini dulu artikel artikel-an kali ini, 🙂 🙂 🙂 mohon koreksi dan mohon bimbingan nya, ,,,, was salam ‘alaykum wr wb
.
Edisi ahad 28 maret 2016
.

%d blogger menyukai ini: